Foto Sport

Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih

Agung Pambudhy - Sport
Selasa, 20 Mar 2018 14:18 WIB

Jakarta - Eko Yuli Irawan sudah kembali menjadi andalan Indonesia di Asian Games 2018. Lifter asal Lampung itu memiliki tantangan berbeda: kenyamanan.

Eko bisa bernapas lega dengan kepastian kelas 62 kilogram di Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang. Atlet angkat besi 28 tahun itu hanya perlu mengembalikan staminanya setelah tumbang oleh tifus pada Februari lalu.
Ya, belakangan Eko seolah diajak bermain-main rollercoaster. Enam bulan menjelang Asian Games, kondisi badannya malah drop. Eko kena tifus dan dirawat di Rumah Sakit Hermina Galaxy Bekasi. Belum juga meninggalkan rumah sakit, Eko diputus tak bisa tampil di Asian Games 2018. Asian Games yang akan dihelat di Jakarta dan Palembang.
Sebabnya, kelas spesialis Eko, kelas 62 kg, dicoret dari Asian Games. Komite Olimpiade Asia (OCA) mengambil keputusan itu mengacu pada Olimpiade Tokyo 2020 dengan angkat besi hanya mempertandingkan 14 kelas (tujuh putra dan tujuh putri).
Tapi, sejak awal Eko optimistis pemerintah, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), INASGOC, dan PB PABBSI, akan memerjuangkan kelas spesialisnya di Asian Games. Kalaupun gagal, dia juga sudah menyiapkan alternatif. Dalam prosesnya, Indonesia berhasil mengajak bicara OCA. Kelas 62 tetap dipertandingkan. Kini, dengan penambahan terbaru, cabang angkat besi putra di Asian Games 2018 akan mempertandingkan delapan kelas, yakni 56 kg, 62 kg, 69 kg, 77 kg, 85 kg, 94 kg, 105 kg, dan +105 kg.
Dengan kepastian itu, Eko bisa kian fokus berlatih. Dia sudah menjalani latihan sejak awal bulan ini dan sudah memasang target untuk mengembalikan kondisinya mendekati ideal sebulan ke depan.
Pemilik medali perunggu Olimpiade 2008 Beijing dan 2012 London serta perak Olimpiade 2016 Rio itu, justru harus memerangi kenyamanannya. Eko yang dulu seorang penggembala kambing dan tinggal bersama orang tuanya di kontrakan di Lampung sana, kini sudah mapan.
Eko memiliki tiga rumah, dengan dua di antaranya merupakan bonus Olimpiade dari PB PABBSI. Bonus uang ratusan juta dan miliaran dari multi event yang diikuti juga sudah dikonversi menjadi rumah lainnya dan coba-coba usaha. Uang saku untuk atlet elite juga sudha jauh lebih tinggi ketimbang pelatnas sebelumnya.
Atmosfer Asian Games pun tak lagi asing. Dia adalah pemilik dua medali perunggu dari Asian Games 2010 Guangzhou dan 2014 Incheon.
Dia bertekad untuk bisa memersembahkan medali emas di Asian Games kali ini.
Dia bertekad memerbaiki hasil tiga kali Asian Games yang diikuti sebelumnya. Dia sekaligus ingin membuktikan kalau kenyamanan bukanlah halangan.
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih
Berbincang dan Melihat Eko Yuli Irawan Berlatih