Pengakuan tersebut dilontarkan Nadal dalam bukunya, "Rafa: My Story", yang dirilis di Amerika Serikat, Selasa (23/8/2011) kemarin.
Disebutkan, titik terendah dari karir Nadal terjadi pada tahun 2005 silam tatkala para dokter menemukan masalah tulang bawaan di kaki kirinya setelah kemenangan lima set atas Ivan Ljubicic di Madrid dalam sebuah pertarungan sengit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat terpinggirkan dari dunia tenis, Nadal yang sangat terpukul dan merasa hampa karena tak lagi menekuni dunia yang ia cintai, mulai tergoda untuk banting setir ke dunia golf.
"Pada mulanya diagnosis itu seperti sebuah tembakan ke kepalaku," kenang Nadal seperti dikutip Golf365.
"Tulangnya masih terasa sakit. (Sampai kini) Masih ada di bawah kontrol, meski kita sama sekali tidak boleh lengah," lanjutnya.
Godaan dari golf sendiri pada prosesnya gagal merayu Nadal untuk meninggalkan tenis. Si petenis Spanyol terus beraksi di dunia itu seraya meraih sejumlah gelar bergengsi, seperti titel Wimbledon 2008 saat mengalahkan Roger Federer di final, salah satu partai yang disebut Nadal sebagai pertarungan paling sengit dalam karirnya.
Sementara di luar lapangan, dalam buku itu Nadal mengaku kalau perpisahan orangtuanya juga memberikan pukulan telak untuknya sehingga menghambat proses pemulihan cederanya pada tahun 2009.
(krs/a2s)











































