Djokovic tak mudah melupakan pengalaman mencekam di usia 12 tahun. Tempat tinggalnya pernah jadi sasaran bom. Keluarganya panik seketika. Untungnya mereka tetap baik-baik saja.
βMasa itu merupakan waktu terberat buat saya dan teman dan kolega sebangsa dari Serbia. Masa dalam hidup yang kami harap tak terjadi pada orang lain,β kata Djokovic dalam wawancara yang dimuat di situs resmi Amerika Serikat Terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Djokovic tak ingin hanya melihat sisi negatif peristiwa itu. Dia memilih mengambil hikmahnya.
"Itu membuat kami lebih kuat. Anda tahu, itu terjadi selama 2,5 bulan. Kami melihat sisi positifnya. Kami masih anak-anak. Kami baru berusia 12 tahun," kenangnya.
"Jadi, kami berpikir, oke kami tak diizinkan pergi ke sekolah, kami bisa lebih banyak bermain tenis. Jadi, kami berlatih tenis setiap hari selama dua bulan itu dengan pesawat tempur terbang di atas kepala kami. Kami tak terlalu memikirkannya."
βSatu atau dua pekan setelah ledakan bom itu, kami hanya berpikir untuk segera memperbaiki hidup kami. Kami melakukan apa pun yang kami inginkan dan kami bisa. Kejadian itu bukan atas kendali kami. Kami tak mendapatkan bantuan, tapi beruntungnya kami bisa bertahan."
βOleh karena itu, sekarang saya membenci segala macam senjata, segala macam pesawat tempur, dan serangan misil. Saya benar-benar tidak setuju dengan segala sesuatu yang merusak. Saya punya pengalaman pribadi, saya sangat paham itu tak akan membawa kebaikan buat siapa pun.β
(fem/mfi)











































