Cara Andritany dan Prastawa Bangkit dari Momen Sulit

Cara Andritany dan Prastawa Bangkit dari Momen Sulit

- Sport
Selasa, 14 Okt 2014 13:51 WIB
Cara Andritany dan Prastawa Bangkit dari Momen Sulit
Ilustrasi: ist
Jakarta - Mereka muda dan berpotensi besar di cabang olahraganya masing-masing. Tapi pebasket Andakara Prastawa Dhyaksa dan pesepakbola Andritany Ardhiyasa pernah menghadapi momen-momen sulit dalam kariernya.

Sosok Andritany di depan gawang Persija Jakarta semakin diperhitungkan lawan. Kepercayaan dirinya sering kali bikin keder pemain lini depan klub-klub kontestan Indonesia Super League (ISL).

"Saya seseorang dengan kepercayaan diri tinggi dan tak pernah merasa minder saat bertanding. Yang penting itu percaya diri, jangan pernah memikirkan hal lain," kata Andritany kepada detikSport beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi bukan berarti Andritany tak pernah menyimpan momen mengecewakan dalam kariernya. Di liga musim ini saja, dia mencatat ada dua pertandingan yang sangat mengecewakan, yaitu saat timnya kandas 1-3 dari Sriwijaya FC dan 0-1 dari Arema.

"Di situ mental dan kepercayaan diri saya hilang karena saya merasa melakukan kesalahan. Saya bikin blunder dan merasa penampilan saya menurun," terang Andritany.

Meski demikian pemain 22 tahun itu tetap dipercaya untuk mengawal gawang Timnas U-23 di Asian Games bulan lalu. Sebelum berlaga di Incheon, ia dan timnya sempat berujicoba ke Italia.

"Setelah ikut di timnas U-23 dan melawan AS Rom, kepercayaan diri saya balik lagi dan sekarang saya makin semangat," ucap pemain yang mengidolakan Edwin van de Saar itu.

Sementara itu Prastawa punya sandungan berbeda di cabang olahraga basket. Bukan sekali saja kemampuannya yang oke sebagai pont guard diremehkan orang lain. Tiket ke tim nasional di masa junior sering diidentikkan berkat campur tangan kedua orang tuanya, Rastafari Horongbala dan Julisa Rastafari. Rastafari kerap jadi pelatih klub NBL dan timnas, Julisa pernah menjadi pengurus PP Perbasi dan pelatih tim putri.

"Dulu 'kan kayak di klub amatir. Pas masih kecil, aku sudah bermain bagus.Β Tapi dibilang aku bagus karena anak pelatih, jadi bisa nembus tim utama. Atau saat di Aspac sering dibilang, Pras kok main mulu sih, karena bokapnya pelatih ya?" kenang Pras.

"Ya aku sih secepatnya membuktikan dengan bermain bagus. Memang jadi beban tapi sekaligus motivasi ke aku sendiri saja. Karena mau tidak mau, embel-embel ayah dan ibu itu tak bisa dihilangkan. Jadi terima saja, toh tidak ada ruginya juga," ucap pemain Aspac yang pernah memperkuat DKI Jakarta pada PON 2012 itu.

Pembuktian diberikan Pras. Dia menjawab cemoohan banyak pihak dengan tampil oke pada NBL musim 2013. Predikat rookie of the year disabet dengan menyisihkan 37 rookie lainnya.

Statistik mencatat Prastawa menjadi pemain tersubur kelima dengan 13,8 poin per game. Dia juga rajin bikin three point selama musim kompetisi lalu dengan prosentase 48,15 persen.

Orang bilang kemampuan komplitnya seolah titisan dari kedua orang tuanya. Rastafari menurunkan kemampuan tembakan jitu, sedangkan Julisa mewariskan drive dengan kecepatan tajam. Dua kelebihan itu menutup postur mungil Pras yang "hanya" punya tinggi badan 177 dengan berat pada kisaran 63 kilogram.

(fem/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads