HUT RI, Guru SMP Gunungkidul yang Jadi Wasit Olimpiade Dapat Penghargaan

Pradito Rida Pertana - Sport
Selasa, 17 Agu 2021 16:10 WIB
Wahyana (53), wasit di final ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 yang juga guru olahraga di SMP 4 Patuk, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, mendapat penghargaan dari Pemkab Gunungkidul.
Wahyana saat menerima penghargaan dari Pemkab Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul -

Wahyana (53), wasit di final bulutangkis ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 yang juga guru olahraga di SMP 4 Patuk, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, mendapat penghargaan dari Pemkab Gunungkidul.

"Alhamdulillah Ini jadi penghargaan pertama kali yang saya dapat dari pemerintah daerah (Gunungkidul)," katanya kepada wartawan di Gunungkidul, Selasa (17/8/2021).

Warga Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman ini juga mengaku sangat bangga mendapatkan penghargaan tersebut. Karena itu, Wahyana mengaku akan menghabiskan masa kerjanya sebagai Guru di Gunungkidul.

"Jadi saya ini sudah nglaju (pulang pergi antar Kabupaten) Gunungkidul-Godean sekitar 26 tahun dan sudah terlanjur nyaman di Gunungkidul. Ya karena itu aaya akan menikmati pekerjaan ini sampai pensiun di Gunungkidul," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan bahwa penghargaan ini sebagai apresiasi pihaknya karena telah membawa nama Indonesia di kancah Internasional. Terlebih, tidak banyak orang Asia Tenggara yang bisa menjadi wasit di gelaran Olimpiade.

"Penghargaan diberikan karena peran serta beliau yang membanggakan, bukan hanya Gunungkidul atau DIY tetapi Indonesia," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, jalannya laga pamungkas ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 ternyata dipimpin wasit asal Indonesia. Selain itu, wasit tersebut ternyata seorang Guru mata pelajaran olahraga di SMP 4 Patuk, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Wasit tersebut bernama Wahyana (53) warga Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman. Wahyana menceritakan perjalanannya menjadi seorang wasit tingkat dunia sangatlah panjang. Mulanya dia menekuni olahraga Voli, bahkan sempat menjadi anggota voli DIY.

Namun, karena cedera engkel yang serius membuat Wahyana akhirnya memilih berhenti dari dunia Voli. Selanjutnya, Wahyana memilih menekuni olahraga Badminton, bukan sebagai atlet melainkan sebagai wasit.

Akhirnya, mulai tahun 1998 sampai tahun 2000 dia menjadi hakim garis dalam setiap pertandingan Badminton. Tak hanya itu, dia mengikuti ujian kompetensi di tingkat DIY dengan hasil terbaik.

"Kemudian dikembangkan lagi di tingkat nasional dan ASIA. Nah, di tingkat nasional A saya mendapatkan capaian terbaik," katanya saat dihubungi wartawan, Selasa (3/8/2021).

"Selanjutnya saya dikirim mengikuti Asia Accreditation di Kuala Lumpur pada tahun 2006 silam. Terus lanjut lagi Asia Certification di Johor," lanjut Wahyana.

Pria yang juga Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum ini melanjutkan, hal tersebut membuat kemampuannya dalam memimpin pertandingan badminton terus berkembang. Bahkan, sampai akhirnya dia menjadi wasit yang diperhitungkan di kancah internasional.

"Dari situ saya kembali mengikuti BWF Accreditation dan mendapatkan sertifikasi atau lisensi tertinggi pada tahun 2016," katanya.

Debutnya di dunia perwasitan Badminton pun semakin diperhitungkan oleh kancah internasional. Pasalnya jam terbang dalam mengikuti pertandingan juga semakin tinggi, hingga akhirnya dia didapuk menjadi wasit laga final Badminton ganda putri Olimpiade Tokyo 2020.

"Dari 36 wasit yang ada, ada 11 orang dari Asia dan saya merupakan satu-satunya dari Indonesia yang dipercaya untuk memimpin jalannya pertandingan tim tunggal putri dalam memperebutkan medali emas," ucapnya.

(krs/bay)