Timnas Jepang

Jepang Vs Tunisia: Milestone Piala Dunia, Memori 2002, Kenangan Meksiko 1968

Muhammad Robbani - detikSport
Jakarta -

Timnas Jepang menang 4-0 atas Tunisia pada matchday kedua fase grup Piala Dunia 2026. Banyak fakta menarik terkait laga ini bagi Samurai Biru; dari milestone laga ke-1000 Piala Dunia, memori 2002, dan kenangan Olimpiade Meksiko 1968.

Milestone Laga ke-1000 Piala Dunia

Di media sosial, FIFA begitu masif mempromosikan laga Jepang kontra Tunisia sebagai partai bersejarah. Laga yang digelar di Stadion Monterrey, Meksiko, Sabtu (20/6/2026), waktu setempat atau pada, Minggu (21/6) WIB, merupakan pertandingan ke-1000 sepanjang sejarah Piala Dunia.

[Gambas:Instagram]

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

FIFA pun menyematkan emblem spesial di seragam pemain hingga wasit untuk peringatan laga ke-1000. Sejak pertama kali digelar mulai 1930, Jepang dan Tunisia mendapat keistimewaan memainkan laga yang akan diingat untuk selamanya.

ADVERTISEMENT

Bagi Jepang, hasil pertandingannya menjadi semakin spesial berkat gol-gol dari Daichi Kamada, Ayase Ueda (brace), dan Junya Ito. Sebaliknya, Tunisia mungkin tidak mau mengingat-ingat memori kekalahan telak 0-4 di laga spesial ini.

Memori 2002

Di masa kini, Daihyo- julukan Timnas Jepang- sudah terbiasa meraih kemenangan di laga Piala Dunia. Tapi 24 tahun lalu tentu beda ceritanya, ketika itu Jepang baru mentas dalam dua edisi Piala Dunia.

Edisi 1998 merupakan pertama kali Jepang lolos ke Piala Dunia. Hasilnya babak belur, Masami Ihara Cs kalah tiga kali dari Argentina (0-1), Kroasia (0-1). dan Jamaika (1-2).

Empat tahun setelahnya, Jepang bersama Korea Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Bermain di hadapan pendukungnya sendiri, tim asuhan Philippe Troussier meraih poin pertama di Piala Dunia setelah bermain imbang 2-2 dengan Belgia pada laga perdana fase grup.

Kemenangan pertama di Piala Dunia akhirnya diraih Jepang dengan melibas Rusia 1-0 pada laga kedua grup lewat gol semata wayang Junichi Inamoto. Tiga poin diraih Jepang lagi pada laga pamungkas grup dengan melibas Tunisia 2-0.

Kemenangan atas Tunisia didapat berkat gol pembuka yang dicetak Hiroaki Morishima pada menit ke-48 alias tiga menit berjalannya babak kedua. Keputusan Troussier terbukti jitu, menurunkan Morishima di awal babak kedua membuahkan gol pertama buat timnya.

Hidetoshi Nakata kemudian melengkapi pesta tuan rumah di Nagai Stadium, Osaka, lewat golnya pada menit ke-75. Dua kemenangan dan satu kali imbang membuat Jepang meraih 7 poin sekaligus lolos untuk pertama kalinya ke babak gugur.

Bagi Morishima, gol itu memiliki makna yang begitu dalam. Selain menjadi awal kemenangan Jepang atas Tunisia, golnya juga meloloskan tim ke babak penyisihan untuk kali pertama, di stadion yang merupakan kandang klubnya bernaung.

Di masa aktif bermainnya, Morishima cuma pernah memperkuat satu klub saja yakni Yanmar Diesel (kini menjadi Cerezo Osaka). Klub yang merupakan rival Gamba Osaka itu diperkuat Morishima dari 1991 hingga pensiun pada 2008.

detikSport berkesempatan berjumpa Morishima pada 4 Juli 2023. Pria asal Hiroshima itu datang ke Jakarta dalam kapasitasnya sebagai Presiden klub Cerezo Osaka, yang saat itu menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan SSB Asiana Soccer School.

Melihat sang legenda penyandang status one-club man di depan mata, tentu tidak mau dilewatkan begitu saja.

"Morishima Sachou (社長/Sachou sebutan untuk seorang presiden perusahaan), futari o sashin idesu ka," begitu detikSport menyapa Morishima sekaligus mengajak foto bersama dengan Bahasa Jepang yang ala kadarnya.

Kira-kira kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah; "Presiden Morishima, boleh kah saya berfoto berdua dengan Anda?". "Oh, hai', (ya boleh), begitu Morishima menjawabnya saat itu.

detikSport saat bertemu dengan Hiroaki Morishima.detikSport saat bertemu dengan Hiroaki Morishima. Foto: dok.Istimewa/Muhammad Robbani

Kenangan Indah Jepang di Meksiko

Kembali ke Jepang vs Tunisia di Piala Dunia 2026. Partai ini digelar di Meksiko, negara yang akan dikenang selamanya oleh publik sepakbola Jepang.

Tapi bukan cuma soal kemenangan atas Tunisia, tapi di negeri latin, di kawasan Amerika Utara itu merupakan tempat Jepang pernah meraih prestasi membanggakan. Pada Olimpiade 1968, Jepang meraih medali perunggu cabang olahraga sepakbola.

Di bawah asuhan pelatih asal Jerman Barat, Dettmar Cramer, Jepang secara mengejutkan melaju hingga ke babak semifinal. Diawali dengan mengakhiri fase grup sebagai runner-up, Jepang kemudian mengalahkan Prancis 3-1 di perempatfinal, lalu takluk 0-5 dari Hungaria.

Kemudian di partai perebutan posisi ketiga melawan tuan rumah Meksiko, Jepang meraih kemenangan 2-0 berkat brace Kunishige Kamamoto. Kemenangan itu membuat Jepang berhak atas medali perunggu, sekaligus menjadi prestasi mayor pertama Timnas Jepang di pentas internasional.

Timnas Jepang di Olimpiade 1968 Meksiko, sukses meraih perunggu.Timnas Jepang di Olimpiade 1968 Meksiko, sukses meraih perunggu. Foto: dok.Istimewa/JFA

Keberhasilan itu membangkitkan animo sepakbola di kalangan masyarakat Jepang yang selama bertahun-tahun lebih menggilai bisbol. Bagi JFA (Federasi Sepakbola Jepang) hal ini juga menjadi momentum positif untuk terus mempromosikan permainan ini.

Saat itu JFA memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan sepakbola. Tiga tahun sebelumnya, Jepang baru saja menggulirkan Japan Soccer League (JSL) pada 1965 yang merupakan kompetisi sepakbola level nasional pertama di dalam negeri (meski levelnya masih amatir).

Hanya saja momentum medali perunggu Olimpiade 1968 tidak bisa dimaksimalkan, lalu menguap begitu saja. Namun stakeholder sepakbola Negeri Matahari Terbit terus berusaha untuk mengembangkan sepakbola.

Kondisi itu membuat gerah Saburo Kawabuchi, orang yang dianggap paling berjasa dalam lahirnya J.League alias kompetisi profesional sepakbola Jepang. Berkat pengetahuannya sebagai mantan pemain dan manajerial di klub-klub, ia sukses menggalang dukungan tentang betapa pentingnya bagi Jepang untuk memiliki kompetisi profesional.

Akhirnya J.League secara resmi kickoff pada 15 Mei 1993. Selanjutnya, 'The rest is history'. Tidak salah juga jika menyebut bahwa keberhasilan sepakbola Jepang saat ini diawali dari momentum Olimpiade Meksiko 1968- tempat yang kini menjadi lokasi kemenangan kedua Jepang atas Tunisia, dalam partai bersejarah Piala Dunia.


(mro/cas)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Komentar

Terkait

Juara Bola Dunia 2026

ADVERTISEMENT