Tunisia penuh drama jalani Piala Dunia 2026. Sempurna di babak kualifikasi tanpa kekalahan, berakhir jadi bulan-bulanan. Drama pecat-pecat pelatih jadi biang keroknya.
Tunisia maju ke Piala Dunia 2026 sebagai pemuncak Grup H Kualifikasi Zona Afrika. Dari 10 laga, mereka menang sembilan kali dan imbang sekali. Walau di atas kertas memang, Tunisia punya skuad mentereng dibanding lawan-lawannya seperti Namibia, Liveria, Malawi, sampai Sao Tome and Principe.
Tiga edisi berturut-turut, Tunisia selalu lolos ke Piala Dunia. Di tahun 2026 ini, mereka mau buktikan diri untuk pecahkan rekor lolos dari fase grup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Drama pemecatan pelatih
Tunisia awali Grup F Piala Dunia 2026 dengan kekalahan telak 1-5 dari Swedia. Pelatih Sabri Lamouchi dipecat!
Sabri kena pecat karena diyakini dipertanyakan taktiknya. Sabri sebenarnya juga baru menjabat sebagai pelatih sejak Januari, gantikan Sami Trabelsi. Padahal, Trabelsi bisa bawa Tunisia sempurna di fase kualifikasi.
Herve Renard selanjutnya ditunjuk jadi pelatih untuk jalani laga kontra Jepang dan Belanda. Tunisia kembali jadi bulan-bulanan, dicukur Jepang 0-4 dan kalah 1-3 dari Belanda.
Publik Tunisia sebenarnya bertanya-tanya. Apa alasan sebenarnya Trabelsi dan Lamouchi dipecat? Masa cuma masalah taktik?
"Kami punya masalah dengan Lamouchi," singkat ucapan salah satu petinggi sepakbola federasi Tunisia.
Bek Ali Abdi tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Drama pemecatan pelatih memang jadi batu sandungan!
"Kami datang ke Piala Dunia satu bulan dengan skuad yang benar-benar tak pernah bermain bersama," ujarnya dilansir dari beIN Sports.
"Lihatlah Jepang yang skuadnya tidak berubah, mereka sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Alih-alih memperbaiki tim, kami harus selalu merobohkan semuanya dan memulai dari nol," sambungnya dengan nada yang penuh kecewa.
"Anda tidak bisa membangun tim hanya dengan satu, dua, lima bulan. Coba pikir dengan akal sehat," tegasnya.
Herve Renard yang tidak bisa berbuat banyak (Foto: REUTERS/Stringer) |
Herve Renard menyebut, Tunisia belum ada di level untuk bersaing lebih jauh di ajang Piala Dunia. Masuk ke grup neraka, mereka tidak bisa berbuat banyak.
"Level kami belum di Piala Dunia, sudah jelas. Ini turnamen dengan banyak tim hebat, khususnya di grup ini lawan kami berat-berat," jelasnya dilansir dari ESPN.
"Saya berterima kasih kepada pemain yang sudah berjuang. Dalam kondisi psikologis seperti ini, tidak mudah untuk membangkitkan mereka," tambahnya.
Skuad Tunisia saat ini punya pemain yang berkarier di Liga Prancis, Jerman, Inggris, dan Denmark. Tunisia sudah tiga kali lolos Piala Dunia sepanjang sejarah, akankah di edisi berikutnya mereka bisa capai babak lebih tinggi?
(aff/cas)

