Trump Dicemooh saat Serahkan Trofi Piala Dunia

Viral Komentator 'Curhat' soal Bobroknya Piala Dunia 2026 di Siaran Final

Yanu Arifin - detikSport
Bern -

David Lemos, komentator final Piala Dunia 2026 asal Swiss, viral gara-gara ucapannya di siaran final. Ia 'curhat' soal bobroknya turnamen kali ini.

Momen itu tersaji saat media Radio Television Suisse (RTS) menyiarkan final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Ketika di akhir tayangan, dalam prosesi angkat trofi oleh tim Spanyol yang juara usai mengalahkan Argentina 1-0, Lemos bicara panjang lebar bak monolog.

Sambil televisi menyiarkan momen Spanyol angkat trofi dengan suka cita, Lemos bicara soal penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Ia menyinggung banyak hal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lemos menyinggung Piala Dunia 2026 yang dinilai sangat sarat politik. Pertama-tama, ia menyindir FIFA yang terlalu serakah mencari keuntungan dari harga tiket mahal.

ADVERTISEMENT

"Ini, tanpa diragukan lagi, adalah Piala Dunia paling komersial dalam sejarah dan juga salah satu yang paling sarat dengan unsur politik. Kemarin, Gianni Infantino menyatakan bahwa ini adalah-dan saya mengutip secara bebas-'hal terindah yang pernah terjadi pada umat manusia'. Ajang ini telah menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada sebelumnya. Ajang ini telah memberi kita kepuasan luar biasa atas momen-momen indah di ranah olahraga serta seorang juara yang hebat, tetapi kita tidak akan melupakan bahwa di balik stadion-stadion yang penuh sesak, ada harga yang harus dibayar oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk membiayai kecintaan mereka terhadap sepak bola," sindirnya dalam siaran langsung final Piala Dunia 2026 di RTE.

Lemos juga bicara soal banyak masalah selama perhelatan Piala Dunia 2026. Di antaranya masalah imigrasi, yang sampai bikin wasit asal Somalia, Omar Artan, tak bisa bertugas hanya karena negaranya diblacklist Donald Trump, hingga intervensi Gedung Putih soal kartu merah Folarin Balogun.

"Beberapa di antaranya bahkan tidak diizinkan masuk ke negara ini jika kewarganegaraan mereka bukan yang 'tepat', baik itu suporter, jurnalis, maupun wasit, seperti Omar Artan dari Somalia," lanjut Lemos.

"Kami juga memikirkan perlakuan yang tidak dapat diterima terhadap tim Iran yang tidak dapat memperjuangkan peluang mereka dengan semestinya dalam turnamen ini.

"Kami juga memikirkan kasus Balogun; terkadang kami tersenyum mengingat contoh dari tahun 1982 ketika Emir Kuwait turun ke lapangan untuk membatalkan gol yang dicetak tim Prancis; di sini kami melihat seorang presiden membanggakan diri karena telah menelepon presiden FIFA untuk membatalkan skorsing seorang pemain."

"Sebuah langkah politik yang menempatkan dirinya di pusat permainan, sementara federasi internasional menyatakan bahwa mereka ingin mengutamakan olahraga di atas segalanya," katanya.

David Lemos kemudian menuai pro kontra di media sosial. Beberapa memujinya, namun sebagian tetap menyindir aksinya, termasu mencibir Swiss yang juga punya banyak masalah.

"Sebuah kisah hidup yang patut dihormati dan yang harus menjadi bahan renungan jika kita ingin olahraga tetap mempertahankan pesan dan nilainya," komentar pengguna media sosial.

"Komentar yang luar biasa dan berani dari jurnalis olahraga asal Swiss ini. Para antek kita kini terdiam," puji netizen lain.

"Para jurnalis yang patuh dari media arus utama belum mampu melakukan hal yang sama..." komentar pengguna lainnya.


(yna/mrp)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Komentar

Terkait

Juara Bola Dunia 2026

ADVERTISEMENT