Dua tahun lalu, Foden merupakan pemain terbaik usai membawa City memenangi Premier League pada musim 2023-24. Gelandang 25 tahun tersebut setidaknya meraih enam penghargaan individu berkat torehan 27 gol dan 13 assist dalam 53 laga.
Ia juga membawa Inggris menjadi runner-up Euro 2024, di mana ia selalu menjadi starter di tiap laga sejak fase grup hingga partai final. Namun dalam dua musim berikutnya, Foden terus menurun.
Hanya 13 gol dan tujuh assist yang ia bukukan dari 49 laga di musim 2024-25. Jumlah itu kembali menurun menjadi 10 gol dan tujuh assist dari 50 penampilan pada musim 2025-26 yang baru saja usai. Lebih pahit lagi, Foden malah kehilangan posisi starter.
Jika pada musim 2023-24 ia 33 kali turun sejak menit awal di Liga Inggris, pada musim 2025-26 ia hanya 23 kali menjadi starter. Ia pun dicadangkan di laga krusial seperti melawan Arsenal dan Bournemouth serta tak dimainkan melawan Real Madrid di Liga Champions.
Maka tak sepenuhnya kejutan jika akhirnya manajer Timnas Inggris Thomas Tuchel mencoret Foden dari skuad. Namun yang disayangkan adalah betapa cepat performanya berubah dalam waktu relatif singkat, dan kelelahan dituding jadi faktor utama.
"Jumlah laga yang bisa ia ikuti telah menurun dan, ketika ia tersedia, ia bukanlah Phil Foden versi yang kita lihat dua tahun lalu," ujar Ketua Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris dan Wales (PFA) Maheta Molango, dikutip BBC.
"Sayangnya, ia adalah salah satu korban dari kalender gila ini yang hanya masuk akal bagi mereka yang mengejar keuntungan komersial dengan mengorbankan kualitas tontonan dan perlindungan pemain, yang seharusnya menjadi warisan sepak bola."
"Ini adalah keadaan yang sangat menyedihkan jika seseorang seperti Phil tidak berada di lapangan karena kita mencintai pemain yang membuat kita bermimpi dan yang memiliki bakat murni."
PFA juga menilai penurunan performa Cole Palmer (Chelsea), yang juga absen di Piala Dunia 2026, adalah akibat kepadatan jadwal seperti halnya Foden. "Kita baru melihat sekilas (tahun ini) dan itu merugikan para penggemar Chelsea (dan) penggemar Timnas Inggris," tambah Molango.
PFA kini khawatir nasib serupa bisa menimpa Declan Rice (Arsenal) di masa depan, sebab ia sudah turun 54 kali musim ini, dan itu belum menghitung final Liga Champions dan Piala Dunia 2026.
(adp/cas)
