Pada balapan pamungkasnya di atas motor Ducati, Minggu (7/11/2010), Stoner telah melakukan yang terbaik yang dia bisa, dengan menjadi runner up di belakang Jorge Lorenzo. Setidaknya ia tidak mengulang kesialannya di seri sebelumnya, saat terjatuh dan out di MotoGP Portugal.
Pria 25 tahun itu sempat memimpin lomba dari awal sebelum dikalahkan Lorenzo di lap 24. Usai balapan ia mengaku tak berharap bisa mendominasi sampai selesai, karena Lorenzo dan Yamaha-nya diakui lebih baik dibanding dirinya dan Ducati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angkat topi untuk Jorge. Dia pantas menjadi juara dunia dan menang hari ini."
Di musim terakhirnya di Ducati ini Stoner mengumpulkan 225 poin dari 18 seri. Ia gagal finish lima kali karena crash, yaitu di dua dari tiga seri pertama, lalu dua kali dari empat seri terakhir. Ia meraih tiga kemenangan di Aragon, Jepang, dan Australia.
Total, selama empat musim membela Ducati, suami Adriana itu mengutip 23 kemenangan, 42 podium, dan 22 pole. Musim terbaiknya adalah di musim pertamanya (2007), saat ia langsung menjadi juara dunia.
Di musim berikutnya Stoner turun sebagai runner up di belakang Rossi, lalu finish di peringkat keempat di tahun 2009 -- seperti juga musim ini. Tahun depan Stoner akan kembali ke tim yang membawanya ke kelas MotoGP di tahun 2006, Honda.
"Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Terima kasih banyak untuk Ducati atas empat tahun ini. Luar biasa," tutur Stoner. (a2s/nar)











































