Musim 2014 menandai 15 tahun kiprah Rossi di kelas tertinggi ajang balap MotoGP, di mana dia pernah begitu merajai. Mulai promosi pada musim 2000, total tujuh titel juara dunia digondol, yang turut mengantarkan label legendaris untuknya.
Sejak masuk ke kelas primer itulah, ia langsung menjalani periode keemasan hingga tahun 2010 silam. Dalam kurun waktu tersebut pebalap kelahiran Urbino, Italia itu tak pernah sekalipun terlempar dari tiga besar klasemen akhir.
Selepas 2010, Rossi tercecer. Kala itu banyak yang menduga kegagalannya bersaing di baris terdepan karena salah keputusan, yakni menerima pinangan tim Ducati. Kerjasama keduanya gagal membuat Desmosedici jadi tunggangan yang mumpuni. Dua tahun memperkuat tim satu negaranya itu, Rossi tak sekalipun memenangi balapan dan berakhir di posisi 7 dan 6 klasemen akhir.
Musim lalu dia lantas kembali ke Yamaha, tim yang membantunya meraih empat gelar juara dunia. Bukan berarti dia juga lantas langsung berprestasi, karena jelas pebalap berjuluk The Doctor itu butuh adaptasi lagi, termasuk penyesuaian setup di sana-sini untuk mengakomodasi gaya balapnya.
Sepanjang musim lalu dia cuma satu kali menang, tapi catatan naik podiumnya membaik ketimbang dua musim sebelumnya. Total enam kali Rossi naik podium, dua kali lipat selama memperkuat Ducati.
Nah, musim ini disebut-sebut sebagai musim penentunya. Bukan apa-apa, kontraknya bersama Yamaha akan habis di akhir kompetisi nanti. Kendatipun mengungkapkan harapannya untuk lanjut setidaknya dua tahun lagi, pengusung nomor balap 46 itu juga mengakui bahwa dirinya harus kompetitif untuk bisa mendapatkan perpanjangan kontrak.
"Ya. Aku selalu bilang ingin lanjut. (Aku ingin) Dua tahun lagi. Jika aku kompetitif, aku akan lanjut," kata Rossi di Crash kala itu.
Lalu bagaimana peluang Rossi di musim ini? Hasil-hasil sepanjang tes pramusim yang digelar di sirkuit Sepang dan Phillip Island menunjukkan YZR-M1 tahun ini cukup kompetitif, yang membuatnya cukup antusias dan optimistis.
Dalam tiga kali tes, tercatat selisihnya yang paling jauh dengan pebalap tercepat adalah 0.566 detik. Lima dari sembilan kali uji coba bahkan Rossi selalu berada di tiga besar, di mana satu kali menjadi yang tercepat.
Namun bagaimanapun juga, catatan ini bukan sebuah indikator pasti di balapan sesungguhnya nanti. Sebagai sosok yang mewakili generasi lama, Rossi jelas harus bisa menaklukkan agresivitas pebalap-pebalap yang lebih muda seperti Marc Marquez, Jorge Lorenzo, dan Dani Pedrosa untuk menjadi yang terdepan.
Andaikata nanti memang tetap tak sanggup bersaing, mungkin ada baiknya Rossi berhenti memburu titel kedelapan. Seluruh gelar dan rekornya seharusnya lebih kali dari sekadar cukup untuk jadi alasan pensiun.
Plus dia bisa fokus ke pembinaan pebalap muda, lewat tim Sky-VR46 miliknya yang akan berlaga di kelas Moto3 dan sekolah balap VR46 Riders Academy yang didirikannya. Lagipula, namanya terlalu besar untuk terus diasapi lawan-lawannya.
(raw/a2s)











































