detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 22 Jun 2015 09:31 WIB

Jalan Panjang Pebalap Indonesia Menuju MotoGP

Doni Wahyudi - detikSport
detikSport/Doni Wahyudi
Barcelona -

Sukses besar yang diraih Spanyol di seri Grand Prix bukan hanya semata soal pembinaan. Negara tersebut memiliki sistem yang sudah tertata dengan sangat baik untuk melahirkan rider-rider oke. Di Indonesia pola tersebut tengah coba diaplikasikan.

Spanyol mencetak sejarah besar di seri Grand Prix, saat tahun 2010 lalu tiga pebalapnya jadi juara di tiga kelas berbeda: Moto3, Moto2 dan MotoGP. Setelah itu rider-rider negeri Matador selalu mendominasi isi podium, dan juga mengusai titel-titel juara dunia di beberapa kelas dalam beberapa musim.

Keberhasilan itu didapat Spanyol dengan jalan yang tidak mudah. Mereka punya sistem pembinaan pebalap muda yang sudah tersusun dengan sangat baik. Gelaran CEV (Sampeonato de Espana de Velocidad) adalah bukti keseriusan Spanyol untuk melahirkan bakat-bakat balap baru.

"Yang paling penting dalam sebuah pembinaan itu bukan orangnya, bukan motornya. Tapi sistem. Kenapa Spanyol bisa seperti sekarang ini? Karena mereka punya sistem. Pola ini yang dicoba diaplikasikan ke Indonesia," sahut Manajer Motorsport and Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM), Anggono Iriawan.

Ditemui di sela-sela gelaran CEV di Sirkuit Barcelona de Catalunya, Anggono menyebut keikutsertaan Dimas Ekky di event tersebut adalah salah satu langkah ke arah penciptaan sistem pembinaan yang lebih baik.

"Kita sekarang ini sedang membangun langkah ke sana. Menyiapkan rider. Balapan-balapan di Indonesia adalah sebagai entry level," lanjut Anggono merujuk pada rangkaian ajang lomba domestik yang digelar Astra Honda Motor serta kejuaraan-kejuaraan berlevel internasional.

Soal skill membalap, rider Indonesia disebut Anggono tidak kalah dengan pebalap lain. Namun, kemampuan bukan hal utama di atas motor. Hal lain yang juga sangat penting adalah fisik, mental, attitude, dan lingkungan.

"Balapan itu faktor rider sangat besar, bukan sekadar mesin. Kalau pebalap dari satu negara dan negara lain punya skill sama, maka yang akan membedakan keduanya adalah fisik, kalau fisik sama yang kemudian membedakan adalah mental. Kalau mental masih sama, berikutnya ada attittude. Yang lainnya adalah lingkungan," lanjut dia.

"Background juga punya pengaruh, misalnya keluarga. Orang tua juga pengaruh besar, apalagi soal ekonominya. Kalau soal skill itu mudah. Kayak orang memakai sumpit, bisa dilatih. Tapi, ini 'kan soal komunikasi juga (dengan seluruh tim), nah itu soal attitude yang berperan."

"Pebalap Indonesia punya banyak potensi. Tapi, sayangnya potensi saja nggak cukup. Mental itu masalahnya. Pebalap Indonesia manja. Sukses sedikit sudah susah. Banyak fans, ini bagaimana mereka menyikapi hal tersebut."

Upaya membangun sistem pembinaan yang lebih baik salah satunya dilakukan AHM. Di tingkat paling bawah pembinaan dilakukan melalui Honda Racing School (HRS). Usai dilatih, pebalap dan mekanik diberikan kesempatan mengikuti ajang tanding domestik Honda Racing Championship (HRC), Motorprix, Indospeed Race Series (IRS), serta berbagai kompetisi nasional dan internasional.

Mereka yang berprestasi di HRC kemudian ditantang ikut kompetisi yang lebih tinggi yakni One Make Race, Open Class 150cc dan OMR 250. Ini merupakan seleksi pebalap muda berusia di bawah 20 tahun agar dapat mengikuti balap internasional Asia Dream Cup. Selain itu ada juga kompetisi nasional Motoprix dan Kejurnas 600cc.‎

Dimas Ekky Pratama yang berlaga di CEV Spanish Championship adalah rider binaan Honda yang dianggap punya potensi menjanjikan. Turun di bawah bendera Astra Honda Team Asia, Dimas telah mengumpulkan 11 poin dari dua seri yang dilalui dan untuk sementara duduk di posisi 10 klasemen pebalap.



(din/roz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com