Meski punya pasar besar di dunia MotoGP, Indonesia memang belum seberuntung negara tetangganya, Malaysia, yang sudah sejak 1991 rajin menghelat balapan tersebut. Tak cuma itu, sirkuit Sepang juga rutin dipakai balapan F1 setiap musimnya.
Sementara Indonesia pernah dua kali menyelenggarakan MotoGP, yaitu di tahun 1996 dan 1997. Kala itu kelas 500cc dikuasai oleh Mike Doohan (1996) dan Tadayuki Okada (1997). Valentino Rossi pernah juara di kelas 125cc di tahun 1996. Sementara itu, Max Biaggi menjauarai kelas 250cc di tahun 1997.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka ketika wacana menggelar MotoGP di Indonesia pada 2017 mengemuka, publik pun menyambutnya dengan antusias. Tak terkecuali bagi pebalap lokal yang memperkuat Astra Team Honda Asia, Dimas Ekky Pratama, yang begitu antusias dengan kemungkinan Indonesia jadi tuan rumah.
Dimas menilai bahwa kehadiran MotoGP nantinya bisa jadi pintu untuk kedatangan ajang balap internasional lainnya seperti contohnya World Super Bike (WSBK) atau bahkan Formula 1.
"Positif sekali ya wacana soal MotoGP digelar di Indonesia. Efek langsung Indonesia jadi tuan ruah pasti ada, seperti halnya event balapan di Malaysia. Semua rider dari awal sudah persiapan. Pastinya Indonesia juga mau adakan seleksi Wild Card, latihan, dan lain," ujar Dimas dalam perbincangan dengan detikSport, Kamis (10/9) siang WIB.
"Efek tak langsungnya tentu, adanya MotoGP juga bisa mancing event-event internasional lainnya masuk sini. Selain itu adanya turis yang menonton juga mendatangkan devisa," sambungnya.
"Kalau buat kita sebagai pebalap tentu efeknya ada. Kita bisa belajar bagaimana rider-rider dunia tampil, kerja di belakang sirkuit seperti apa. Ada sisi positifnya juga. Kan beda kalau lihat langsung dan dari televisi."
Indonesia sendiri diharuskan memberi uang jaminan sebesar 7 juta euro jika memang ingin menggelar balapan tersebuat. Dengan uang setara Rp 111 miliar itu, sebenarnya bisa juga digunakan untuk membangun sirkuit-sirkuit bertaraf internasional di Indonesia dan juga pembinaan para pebalap muda.
Apalagi Indonesia memang sangat kekurangan sirkuit bertaraf internasional, mengingat sirkuit Sentul pun saat ini sudah tidak memadai lagi. Selain itu Sentul juga dinilai kurang menantang bagi para pebalap.
"Dengan uang sebesar itu, menurut saya sih kita bisa tuh bangun 3-4 sirkuit balap yang mendekati taraf internasional, dari situ kita bisa meniru Thailand yang mendatangkan WSBK. Yang penting kita punya fasilitas dulu, sekarang Sentul juga kondisi aspalnya bagaimana, tidak memungkinkan lah," papar Dimas.
"Jika Indonesia punya banyak sirkuit dengan layout berbeda, maka para pebalap juga bisa merasakan beberapa sirkuit yang butuh teknik," tutupnya.
(mrp/krs)










































