detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 05 Nov 2015 20:20 WIB

The Doctor, Valentino Rossi

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
Getty Images Getty Images
Jakarta - Valentino Rossi adalah salah satu fenomena terbesar di dunia balap motor. Telah diakui sebagai legenda hidup Grand Prix, pebalap berjuluk The Doctor itu kini mengejar gelar juara dunia ke-10.

Lahir di Urbino, Rossi mendapatkan darah balap dari sang ayah, Graziano Rossi. Pertama kali Rossi jatuh cinta pada olahraga adu kebut adalah pada ajang karting. Jalur ini pula yang sempat akan ditempuh Rossi kecil, utnuk kemudian menjadi pebalap Formula 1.

Tapi takdir berkata lain. Karena mahalnya biaya untuk merintis jalan di jalur tersebut, Rossi pindah haluan ke minimoto. Dari sanalah, kisah legendaris nan bersejarah Rossi dimulai.

- Kelas 125cc (Awal Karier Grand Prix)

Rossi memulai kiprah di kelas 125cc pada tahun 1996. Namun demikian dua tahun sebelumnya dia sudah mengenal motor dengan kapasitas mesin tersebut. Dia diminta Aprilia utuk meningkatkan performa RS125R, sebagai balasannya dia bisa mempelajari cara mengendalikan motor tersebut.

Dua tahun berselang, Rossi menjalani debut di GP 125cc bersama Aprilia. Dia finis keenam dalam balapan pembuka di Malaysia, lalu diikuti posisi 11 di Indonesia dan Jepang. Tujuh balapan berikutnya, dia memetik podium pertama dengan finis ketiga di Austria dan diikuti kemenangan pertama di Republik Ceko. Setelah itu Rossi tak lagi naik podium, menuntaskan musim di urutan sembilan klasemen dengan nilai 111.



Di musim kedua, Rossi mengawali dengan apik. Dia juara pada seri pertama di Malaysia. Sempat gagal finis di Jepang, Rossi juara di dua seri berikutnya yakni Spanyol dan Italia. Setelah itu, dia tak jauh-jauh dari podium, memenangi delapan dari 10 seri berikutnya. Meski cuma finis keenam pada balapan terakhir di Australia, Rossi merengkuh gelar juara dunianya yang pertama dengan total 321 poin. Gelar ini lantas mengantarkannya naik ke kelas 250 cc.

- Kelas 250cc

Rossi memulai perjalanannya di kelas 250cc dengan kesulitan, gagal finis di dua seri pertama yakni di Jepang dan Malaysia. Tapi kemudian Rossi tampil impresif untuk membawa Aprilia-nya finis di posisi dua di tiga seri secara berurutan. Selang satu seri, Rossi merengkuh kemenangan pertama di kelas ini saat menuntaskan balapan di Belanda.

Dia kemudian mencatatkan empat kemenangan di tujuh balapan tersisa, keempatnya direngkuh secara berurutan di empat seri terakhir. Namun laju impresifnya itu tak cukup untuk mengantarkan Rossi ke gelar juara dunia. Dia harus puas menuntaskan musim di posisi dua, di belakang Loris Capirossi.

Rossi kembali tak menjalani awal musim yang baik di tahun 1999. Pebalap asal Italia ini cuma finis kelima di seri pembuka Malaysia dan ketujuh di Jepang pada seri berikutnya. Dia lantas memetik kemenangan di seri ketiga yang berlangsung di Spanyol. Sempat tak menyelesaikan balapan di Prancis, Rossi mencatatkan rangkaian hasil impresif di tujuh seri berikutnya saat menang lima kali dan dua kali finis runner up. Dia kemudian mencatatkan tiga kemenangan lagi di lima sesi terakhir, mengantarkannya ke gelar juara dunia kedua dalam empat musim kariernya di Grand Prix.



- Menapak Sukses di Kelas 500cc/MotoGP

Cuma dua musim di kelas intermediate, Rossi naik ke kelas primer di tahun 2000 dan bergabung dengan Honda. Di musim pertamanya, Rossi mendapatkan bantuan dari mantan juara dunia Mick Doohan sebagai mentor. Tapi awal perjalanannya di kelas teratas juga tak mulus. Dia gagal finis di dua balapan pertama, di Afrika Selatan dan Malaysia. Setelah finis ke-11 di seri ketiga Jepang, Rossi naik podium untuk pertama kali di Spanyol pada balapan berikutnya.

Butuh sembilan balapan bagi Rossi pada musim pertamanya di kelas teratas untuk memetik kemenangan pertama, yakni di Inggris. Dia kemudian meraih kemenangan kedua di seri Brasil dan menuntaskan musim sebagai runner-up di belakang Kenny Roberts Jr. Tahun berikutnya, Rossi mengawali musim dengan cemerlang di mana memenangi tiga balapan pertama. Dia juga memenangi delapan balapan lainnya tahun itu, mengumpulkan total 11 kemenangan dan merengkuh gelar juara dunia dengan keunggulan 106 poin dari Max Biaggi yang jadi rival terdekat. Rossi juga menjadi pebalap tim satelit pertama dan satu-satunya yang menjadi juara dunia.

Perubahan mesin di musim 2002 menjadi 4-tak 990 cc membuat sejumlah pebalap kesulitan dan harus beradaptasi dengan laju motor. Tapi Rossi berhasil menjaga performa untuk mengumpulkan 11 kemenangan dan empat kali finis runner-up dari 16 seri untuk mempertahankan gelar juara dunia.

Rossi belum terbendung di musim 2003 dan kembali memenangi gelar juara dunia bersama Honda. Dia memenangi sembilan seri di tahun itu dan mengumpulkan total 357 poin untuk mengalahkan Sete Gibernau yang jadi pesaing terdekat. Di tahun ini, Rossi punya satu momen unik ketika mendapatkan penalti 10 detik karena menyalip saat bendera kuning di Australia. Tapi pada prosesnya, Rossi tancap gas habis-habisan dan finis dengan keunggulan lebih dari 15 detik dari pebalap terdekat sehingga membuat penalti tak berarti. Gelar juara dunia di musim ini sekaligus menandai berakhirnya kerjasama Rossi dengan Honda.

Rossi pindah ke Yamaha di musim 2004 dan langsung memenangi seri pertama di Afrika Selatan. Dia kembali tampil mengesankan untuk memetik delapan kemenangan di tahun ini dan mengantarkan Yamaha ke tangga juara dunia untuk kali pertama di MotoGP. Dia juga berhasil mempertahankan lagi gelar juara dunia di musim 2005, mencatatkan gelar ketujuh dalam kariernya dan titel juara dunia kelas primer kelima secara beruntun.

Dominasi Rossi membuatnya kembali dijagokan di musim 2006, tapi dia mengalami masalah dengan motor. Meski mencatatkan lima kemenangan di tahun tersebut, dia gagal mempertahankan gelar juara dunia dan harus puas menyelesaikan musim di belakang Nicky Hayden. Musim berikutnya, Rossi mendapatkan tantangan sulit dari Casey Stoner. Dia cuma memetik empat kemenangan di tengah dominasi Stoner, hingga akhirnya menutup musim di posisi tiga. Ini adalah posisi terendah Rossi setelah musim perdananya di Grand Prix kelas 125cc.



Rossi bangkit di musim 2008, salah satunya dipengaruhi keputusannya menggunakan ban Bridgestone. Mengawali musim dengan finis kelima di Qatar, hasil itu jadi satu dari dua hasil terburuknya musim itu selain di Belanda di mana dia finis nomor 11. Sisanya? Rossi memetik sembilan kemenangan, lima di antaranya secara beruntun dan mengumpulkan 373 poin untuk kembali merengkuh gelar juara dunia.

Di tahun 2009, gelar juara dunia kembali didapatkan Rossi meski harus bersaing ketat dengan rekan setimnya, Jorge Lorenzo. Dia mencatatkan enam kemenangan, jumlah kemenangan terendah yang pernah didapatkannya di musim di mana dia jadi juara dunia. Cuma 306 poin yang dikumpulkannya di akhir musim, turun jauh dari musim sebelumnya.

Di tahun 2010, Rossi terganggu dengan kondisi fisiknya. Meski menang di seri pembuka Qatar, dia kemudian mengeluhkan sakit di bahu, akibat cedera robek ligamen yang tak ditangani dengan baik. Di seri Italia, dia terjatuh dan mengalami retak kaki sehingga tak ikut balapan. Kecelakaan ini membuatnya absen di tiga seri berturut-turut, yakni di Inggris, Belanda, dan Catalunya. Dia kembali di seri Jerman, lalu mendapatkan satu kemenangan dan enam hasil podium lainnya di sisa musim untuk finis ketiga di klasemen akhir. Musim ini sekaligus menandai perpisahannya dengan Yamaha.

- Masa Ducati yang Suram

Meninggalkan Yamaha, Rossi pindah ke Ducati. Awalnya perkawinan Rossi-Ducati ditanggapi dengan antusiasme, karena dinilai mewujudkan pasangan Italia yang diidam-idamkan. Tapi lambat laun diketahui Rossi mengalami kesulitan tampil kompetitif dengan Ducati. Rossi finis di posisi tujuh di seri pembuka Qatar, lalu di posisi lima di Spanyol dan Portugal. Dia naik podium untuk kali pertama di seri berikutnya Prancis usai finis ketiga, yang ternyata jadi podium satu-satunya bersama Ducati sepanjang musim tersebut. Rossi menuntaskan musim di posisi tujuh klasemen, hanya mengumpulkan nilai 139.

Musim berikutnya, tak ada tanda perbaikan. Rossi memulai musim dengan hasil finis ke-10, sembilan, dan tujuh di tiga balapan pertama. Dia kemudian naik podium dua di Prancis dan tak pernah naik podium lagi selama bersama Ducati. Rossi menuntaskan musim 2012 di posisi enam dengan nilai 163. Selama memperkuat Ducati, Rossi tak mampu membuat lonceng gereja di kampungnya, Tavulia, berdentang, yang mana sebagai tanda setiap kemenangannya.

- Pulang ke Yamaha

Setelah dua musim yang suram, sang legenda MotoGP kembali memperkuat Yamaha. Awalnya tampak baik dengan finis kedua di seri perdana di Qatar. Tapi berikutnya hasilnya menurun. Rossi akhirnya memetik kemenangan pertama setelah 46 seri tak juara di balapan ketujuh musim 2013. Itu jadi satu-satunya kemenangannya di musim tersebut, plus lima kali finis podium. Rossi menuntaskan musim di urutan empat klasemen, di mana Marc Marquez jadi juara dunia di musim debutnya.



Musim berikutnya, Rossi menunjukkan perkembangan signifikan. Setelah finis kedua di Qatar, dia sempat gagal tak naik podium di Amerika Seirkat dan Argentina. Namun kemudian dia kembali ke tangga tiga besar di empat balapan beruntun. Butuh 13 balapan bagi Rossi untuk memetik kemenangan di musim ini, yakni kala melakoni balapan di San Marino. Selang dua seri berikutnya, dia kembali finis pertama di Australia. Dia menutup musim sebagai runner up dengan 295 poin, tertinggal 67 angka dari Marquez.

Setelah dua musim menunjukkan grafik meningkat, Rossi kembali membuktikan diri masih bisa bertarung di level terbaik dalam usia 36 tahun. Pada musim 2015 ini, Rossi punya kesempatan terbaik untuk merengkuh titel juara dunia ke-10. Dia memulai dengan kemenangan di seri perdana Qatar, lalu tak pernah finis di luar tiga besar di 11 seri berikutnya, mencatatkan tiga kemenangan lain di Argentina, Belanda, dan Inggris. Dia terus dalam posisi memimpin klasemen sampai kemudian insiden dengan Marquez di Malaysia membuat kansnya mengecil tiba-tiba.

Dalam posisi unggul tujuh poin atas Lorenzo yang jadi rival terdekatnya menatap seri terakhir di Valencia, Rossi harus menerima kenyataan bahwa dia mendapatkan hukuman start dari posisi paling belakang. Dia dinilai bersalah dalam insiden dengan Marquez. Harus start dari posisi paling buncit, sang legenda menghadapi situasi amat sulit untuk menegaskan dirinya sebagai yang terbaik di MotoGP.

(raw/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com