"Balap motor bukan olahraga mengenai kontak, walapun kontak itu adalah bagian darinya. Jika tidak demikian, yang akan kita saksikan adalah parade konvoi dan bukannya balapan," kata Ippolito kepada AFP.
Akan tetapi, Ippolito juga mengklaim bahwa "terlau banyak pihak yang sudah terus saja memanas-manasi situasi" sejak insiden Rossi dengan Marquez di Sepang lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Baca juga: Insiden Rossi-Marquez Sampai ke Level Perdana Menteri]
Sanksi tersebut bisa membuat Rossi kehilangan titel karena saat ini rider Movistar Yamaha tersebut cuma memimpin tujuh poin dari Jorge Lorenzo, rekan setim sekaligus pesaing tunggalnya.
Rossi juga sudah membawa kasusnya ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS) dalam usaha membatalkan atau menangguhkan hukuman itu. Tapi putusan CAS sejauh ini tetap membuat Rossi harus start paling belakang dalam balapan pamungkas di Valencia.
Terlepas dari Rossi atau Lorenzo yang akan menjadi kampiun MotoGP 2015, Ippolito menegaskan harapannya bahwa MotoGP secara umum akan jadi pemenang akhir pekan ini setelah memburuknya citra olahraga itu--yang akan membuat adanya perubahan regulasi tahun depan.
Secara khusus, Ippolito menginginkan adanya kelonggaran dari regulasi tertulis agar setiap kasus dapat dinilai dari situasinya alih-alih sanksi otomatis untuk kasus tertentu.
"Saat ini sistem kami mirip dengan poin hukuman yang melahirkan ketidaksetaraan. Seorang pria mabuk disanksi akibat melanggar batas kecepatan sama seperti seorang suami yang buru-buru ingin membawa istrinya untuk proses persalinan di rumah sakit!" ujarnya mengistilahkan.
"Dalam balapan, benar-benar berbeda. Kami harus mempertimbangkan hal itu dan menghindari penalti otomatis," jelas Ippolito.
Dalam tiga musim terakhir otoritas balapan bisa menjatuhkan poin hukuman dari skala 1 poin sampai dengan 10 poin untuk setiap pelanggaran.
Poin terakumulasi selama periode 12 bulan dengan sanksi otomatis terpicu ketika seorang pebalap mencapai empat poin, seperti halnya Rossi, dengan mereka diharuskan start paling belakang. Setelah itu tujuh poin hukuman berarti start dari jalur pit, sementara akumulasi 10 poin berarti diskualifikasi dari balapan berikutnya.
"Regulasi ini diberlakukan dan diterima seluruh pihak untuk menyudahi masalah tertentu seperti mengendalikan antusiasme dari para pebalap muda, tapi itu telah melahirkan masalah-masalah lain. Kami berharap menghapus aspek sistematis dari sanksi ini agar bisa menganalisisnya kasus per kasus," beber Ippolito.
"Bagusnya kami punya banyak kamera di sirkuit dan gambar-gambar itu akan membantu komisaris yang sudah sangat berpengalaman, tapi seperti halnya di seluruh olahraga, ada subyektivitas besar dalam pengambilan keputusan," tuturnya.
Lebih jauh lagi, Ippolito percaya manuver seperti yang melibatkan Rossi dan Marquez di Sepang lalu telah memperlihatkan dibutuhkannya pengawasan lebih ketat.
(krs/nds)










































