Marquez tidak mencoba menyalip Lorenzo yang berada di depannya, tapi mendadak agresif setelah rekan setimnya Dani Pedrosa mulai merangsek. Pada akhirnya, Lorenzo memenangi lomba sekaligus gelar juara MotoGP ketiga sekaligus mengubur impian Valentino Rossi meraih gelar juara dunia kesepuluh.
Rossi lantas kembali menyerang Marquez dengan menganggap bahwa juniornya itu berperan sebagai 'bodyguard' Lorenzo yang langsung dibantah si tertuduh serta Honda. Namun, isu tersebut masih ramai dibicarakan tidak hanya oleh mereka yang bersangkutan tapi juga oleh fans sampai sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal terakhir yang ingin saya lakukan adalah menjadi faktor yang menentukan dalam hasil kejuaraan. Apakah itu pemikiran Marquez setelah semua kehebohan tentang dua balapan sebelumnya? Saya tidak tahu pasti, tapi bagi saya dia terlihat sudah mencapai batasnya saat mengejar Lorenzo," lanjut dia dalam wawancaranya dengan Motorsport.com.
"Saat kita melihat Pedrosa mulai mengejar mereka (Lorenzo dan Marquez), ya,, OK, sekarang Anda bisa menjadi sedikit curiga dengan Marquez karena Dani mengejar Lorenzo dan Marquez bisa .... 2,4 detik dalam empat lap? Dan saat Pedrosa menekan Lorenzo tiba-tiba Marquez menjadi agresif dengan rekan setimnya."
"Tapi Anda bisa mendebatnya, mungkin karena Pedrosa tidak berada dalam pertarungan juara, jadi Marquez merasa dia bisa mengambil risiko yang lebih besar. Siapa tahu? Dan bagaimana Anda menentukan bagaimana kecepatan Marquez sesungguhnya? Semua yang kita tahu adalah Honda tidak mengeluhkan tentang para pebalap mereka, dan dia tetap menekan Lorenzo sampai chequered flag," demikian Schwantz.
Schwantz adalah mantan pebalap yang berkarier di era 80an sampai awal 90an, yang pernah tampil sebagai juara dunia pada 1993 di kelas 500cc bersama Suzuki.
(rin/raw)










































