Pengelola Sirkuit Sentul memastikan tidak akan menggunakan APBN untuk renovasi sirkuit untuk penyelenggaraan MotoGP 2017. Mereka akan mencari dana dari swasta.
Dalam perencanaan anggaran, renovasi sirkuit Sentul diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 150 miliar. Jumlah itu belum termasuk untuk event fee sebesar 23,4 juta dolar AS, yang dibayarkan secara bertahap 7 juta dolar AS untuk tahun 2017, lalu 8 juta dolar AS untuk tahun 2018, dan 8,4 juta dolar AS untuk 2019.
Jika ada yang berharap pembiayaan dari APBN, hal itu keliru. Sebab, pemanfaatan APBN untuk swasta murni harus bersifat nonkomersial, sedangkan MotoGP sudah sangat komersial. Selain itu, Sirkuit Sentul juga bukan Barang Milik Negara (BMN) seperti Gelora Bung Karno, atau Jakabaring Sport Center di Palembang -- meski ada di bawah naungan pemerintah provinsi Sumatera Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun infrastruktur pendukung seperti akses jalan tol, fly over dari sirkuit ke Jakarta, serta pengerukan sungai dan pembuatan kantung parkir, itu baru masuk urusan pemerintah.
Hanya saja, Tinton mengatakan, untuk bisa mendapatkan bantuan sponsor, ayahanda pebalap Moreno dan Ananda Mikola ini memerlukan payung hukum, untuk menjamin bahwa MotoGP tetap jalan.
"Bagaimanapun kami tidak ingin pakai APBN, tapi kami juga harus dapat perlindungan dari pemerintah supaya dari luar bisa membantu. Entah apa nanti namanya, pokoknya payung hukum. Itu sebagai bentuk jaminan dari pihak swasta lainnya untuk mau bantu dana untuk renovasi," sebutnya.
(mcy/a2s)











































