detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 02 Feb 2016 17:19 WIB

Berapa Ongkos Menggelar MotoGP, dan Apa Benefitnya?

Andi Abdullah Sururi - detikSport
Jakarta -

Jika event olahraga otomotif identik dengan kata "mahal", seperti apakah gambaran penyelenggaraan MotoGP, yang saat ini merupakan event balap motor utama di dunia.

Untuk diketahui, MotoGP dikelola oleh Dorna Sports sejak 1992, sebagai pemilik penuh semua hak komersial dan penyiaran event tersebut. Saat ini, rata-rata Dorna menerima 6-10 juta dolar AS dari satu penyelenggaraan grand prix. Sirkuit-sirkuit penyelenggara umumnya menjalin kontrak dengan Dorna antara dua sampai 15 tahun.

Jika di musim lalu (2015) ada 18 seri, itu berarti Dorna Sports mendapatkan sekitar US$ 85 juta, hanya dari event fee – karena mereka juga mendapatkan pemasukan dari sponsor, merchandising, dan lain-lain.

Selain event/promotional fee, pihak penyelenggara (tuan rumah) juga harus menyediakan sejumlah fasilitas kepada tim-tim maupun untuk kepentingan balapan itu sendiri, seperti aspek keamanan, safety car, medis, truk kontainer pengangkut logistik tim, dan sebagainya.

Karena setiap negara (tuan rumah) memiliki kalkulasi masing-masing, maka ongkos penyelenggaraan satu GP dengan GP yang lain pun tidak sama.

Menurut catatan totalsportek.com, Aragon Motorland punya kontrak enam tahun dengan Dorna dari 2011. Nilai kontrak mereka adalah US$ 50 juta, atau rata-rata US$ 10 juta per tahun. Itu yang membuat Aragon termasuk balapan termahal dalam kalender MotoGP.

NoMotoGP 2015Biaya Tahunan
1QatarUS$ 12 juta
2Amerika US$ 10 juta
3Argentina US$ 8 juta
4Jerez US$ 8,5 juta
5Prancis US$ 8 juta
6Italia US$ 6 juta
7Catalunia US$ 10 juta
8Belanda US$ 7,5 juta
9Jerman US$ 7 juta
10Indianapolis US$ 9 juta
11Republik Ceko US$ 7,5 juta
12Inggris Raya US$ 9,5 juta
13San Marino US$ 8 juta
14Aragon US$ 9,5 juta
15Jepang US$ 8,5 juta
16Australia US$ 9 juta
17Malaysia US$ 9 juta
18Valencia US$ 10 juta


Apa keuntungan menjadi tuan rumah MotoGP?

Angka sebesar itu tentu tidaklah kecil. Tapi, menurut advisor Sirkuit Sentul, Irawan Sucahyono, benefit yang bisa diambil dari menghajat MotoGP sangat besar dan memiliki dampak jangka (menengah dan) panjang.

"Antara lain dari branding atau promosi negara penyelenggara, seperti untuk pariwisata, mendatangkan calon investor, dan lain-lain. Secara garis besar, dengan menjadi tuan rumah event sebesar MotoGP, maka negara penyelenggara akan mendapat ruang expossure internasional yang sangat besar. Walaupun penyelenggaraan balapan di sebuah negara hanya satu kali dalam satu tahun, tapi MotoGP itu sendiri berlangsung selama sembilan bulan. Artinya, ekspos kepada setiap tuan rumah pun akan kontinyu sepanjang musim," tutur Irawan dalam perbincangan dengan detiksport.

"Biayanya memang tidak kecil. Tapi jangan dilihat jangka pendeknya. Itu sebabnya kontrak dengan Dorna biasanya minimal tiga tahun. Sebab, si tuan rumah tidak menargetkan balik modal di tahun pertama, tapi secara bertahap di tahun kedua, ketiga, dan seterusnya.

"Katakanlah, membenahi sirkuit dan fasilitas penunjang lain memang menghabiskan biaya besar. Tapi ingat, pembenahan itu dilakukan hanya satu kali. Kalau si tuan rumah punya kontrak empat tahun, misalnya, berarti biaya itu 'kan hanya keluar di tahun pertama. Di tahun-tahun berikutnya istilahnya tinggal pakai saja," papar Irawan.



[Baca juga: MotoGP di Indonesia: 2017 atau Kapan Lagi?]

Lalu, apa benefit untuk si tuan rumah MotoGP?

Berikut ini hal-hal yang termaktub dalam "company profile" MotoGP musim 2015 dari Dorna Sport, yang diperoleh detiksport dari pengelola Sirkuit Sentul:

- Disebutkan bahwa MotoGP merupakan sebuah alat untuk mencapai pasar global internasional, karena digelar oleh belasan negara dari empat benua, sebanyak 18 kali (seri), berlangsung selama sembilan bulan.

- MotoGP adalah brand tertinggi untuk sebuah motor sport, sebuah kunci global, gaya hidup (life style), serta sport dan entertainment, serta merupakan tontonan olahraga yang "menggetarkan", penuh aksi, dan seru. Kata kunci dari nilai dan esesi MotoGP adalah technology, dynamism, passion, youth, innovation, dan speed.

- Sebagai sebuah tontotan yang akan menjadi "mata dan telinga" ke dunia internasional, setiap seri MotoGP menggunakan lebih dari 100 kamera, dengan jumlah kru 150 orang, mulai dari badan sepeda motor, paddock, sampai yang dibawa dengan helikopter, untuk memastikan peliputan (coverage) yang paling komprehensif dan konsisten.




- Di musim 2015, program internasional MotoGP didistribusikan ke 65 stasiun televisi di seluruh dunia – Trans 7 adalah satu-satunya dari Indonesia. Penayangan program-program itu berdurasi total 17.123 jam, dan 59% di antaranya bersifat siaran langsung (live).

- Terkait penyiaran, Dorna mencatat, siaran MotoGP diterima di 207 negara, dengan jumlah audiens mencapai 291 juta (hanya yang menonton di rumah). Profil audiens siaran MotoGP adalah 70% berusia di bawah 35 tahun, dan rata-rata mereka sudah mengikuti MotoGP selama 11 tahun.



Coverage media

- Dorna mencatat, gelaran MotoGP 2014 mengeluarkan akreditasi kepada 8.316 perwakilan media (pers) di seluruh dunia, dengan rata-rata 469 jurnalis per seri grand prix, baik media cetak, TV, radio, online, dan juru kamera/foto.

- Di musim 2014, total penonton MotoGP sepanjang musim berjumlah 2.473.624. Artinya, per hari balapan, penonton yang mendatangi sirkuit rata-rata 137.423 orang.

- Benefit lain ditawarkan sebuah MotoGP kepada tuan rumah adalah kekuatan kampanye mereka lewat saluran-saluran media lain, seperti website, twitter, Facebook, Instagram, dan channel Youtube.

Situs motogp.com, misalnya, di musim 2014 dikunjungi lebih dari 92 juta visitor, meraih 10 juta unique visitor, tersaji dalam 7 bahasa, memiliki lebih dari satu juta pengguna yang teregistrasi, dan 152 juta pageview. Sedangkan dari akun Youtube mereka, total video views yang diraih adalah lebih dari 310 juta.





(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com