Dua Pebalap Indonesia Ini Tagih Keseriusan Pemerintah soal MotoGP 2017

Dua Pebalap Indonesia Ini Tagih Keseriusan Pemerintah soal MotoGP 2017

Mercy Raya - Sport
Selasa, 15 Mar 2016 13:39 WIB
Dua Pebalap Indonesia Ini Tagih Keseriusan Pemerintah soal MotoGP 2017
Jakarta -

Hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan akan di mana perhelatan MotoGP Indonesia untuk tahun 2017, sedangkan waktu terus berjalan. Keseriusan mereka pun ditagih.

Adalah Gerry Salim dan Andi Gilang, dua pebalap dari Astra Honda Racing Team (AHRT) yang baru-baru ini ikut membawa bendera "Merah Putih" di ajang Asia Talent Cup 2016 di Thailand, mempertanyakan sejauh mana perkembangan persiapan Indonesia menghajat MotoGP 2017.

Sampai saat ini pemerintah -- dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) -- baru menyebut bahwa musim 2018 kemungkinan besar akan diadakan di Sumatera Selatan, yang sirkuitnya pun belum tersedia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah memang sempat mengklaim bahwa Indonesia tetap aman untuk menjadi tuan rumah MotoGP 2018 dan 2019, sekalipun kesempatan 2017 dilepas. Namun, jika dilepas, bukankah itu menjadi preseden yang kurang baik, mengingat Dorna telah memberi kesempatan tiga musim?

"Pastinya oke banget kalau ada MotoGP di Indonesia. Tapi kabar terakhir 'kan belum jelas, di mana sirkuitnya. Katanya ada yang mau bikin sirkuit baru, tapi ada juga yang mengusulkan renovasi Sentul. Tapi, kalau jadi, ya harusnya sejak sekarang dipersiapkan," tukas Andi Gilang kepada detiksport di Chang International Circuit, Buriram, Thailand, akhir pekan lalu.

Menurut Andi, dengan sisa waktu yang semakin mepet, persiapan Indonesia malahan bisa tidak maksimal. Padahal nama baik setiap kota/negara penyelenggara dipertaruhkan.

"Sampai sekarang saja baru perencanaan, belum dipastikan tempatnya di mana. Padahal ingin mengejar tahun 2017. Kalau ada apa- apa karena persiapan tidak maksimal, nama Indonesia 'kan bisa jelek juga," ujarnya.

Senada, Gerry Salim berharap MotoGP benar-benar terealisasi di Indonesia. Sebab, ajang itu akan menjadi stimulus baru bagi rider-rider nasional untuk mengais peluang bermain di Moto2 atau Moto3.

"Kalau memang benar digelar bagus ya. Mungkin jadi ada semangat baru untuk pebalap muda di Indonesia. Cuma dari pemerintahnya harus dipertanyakan lagi, bagaimana keseriusannya. Karena yang saya dengar beritanya antara jadi atau tidak jadi," kata Gerry.

"Saya pribadi inginnya jadi. Siapa tahu pebalap Indonesia ada yang mendapat wildcard di kelas Moto3 atau Moto2," sambungnya.



Jika tetap mengejar target 2017, boleh jadi Sirkuit Sentul adalah venue yang "barangnya" sudah ada, walaupun memerlukan banyak perbaikan. Namun, hingga kini belum jelas hasil pembicaraan di antara kedua pihak: pemerintah dan pengelola Sentul. [Baca: Sentul Tetap Jadi Opsi untuk MotoGP 2017]

Andi dan Gerry hanya dua dari sekian banyak pebalap nasional yang punya keterkaitan dengan Sentul. Faktanya, hingga kini Sentul adalah satu-satunya sirkuit bertaraf internasional -- saat ini levelnya di Grade C -- yang dimiliki Indonesia. Dari data pengelola Sentul, sejak tahun 1994 sirkuit yang berlokasi di Kabupaten Bogor itu sudah menghelat 65 balapan bertarf internasional. Salah satu dari dua event terakhir yang digelar di tahun 2015 adalah FIM Asia Road Racing Championship, pada bulan Juni.

Dikatakan Gerry, dirinya pertama kali membalap di Sentul pada tahun 2012, sementara Andy setahun kemudian. Keduanya merupakan jebolan dari Indospeed Race Series, yang kini berganti nama menjadi Kejurnas Motorsport.

"Kalau pengalaman buruk di Sentul tidak ada. Hanya aspalnya memang tidak terlalu mulus dan bergelombang," beber Andi.

Sama seperti Andi, Gerry mengatakan tidak masalah jika ingin digelar di Sentul. Tapi dan pasti akan banyak yang direnovasi. "Dimulai dari aspal, paddock, tribun penonton, dan lain-lain,” imbuhnya.

Pihak pengelola Sentul sendiri sejak awal tahun menyatakan kesiapannya untuk merombak sirkuit. Mereka juga mengaku terus melakukan penjajakan dengan sejumlah investor untuk urusan renovasi dan penyelenggaraan. Mereka bahkan sudah mengontrak arsitek sirkuit ternama, Hermann Tilke, untuk kembali menjadikan Sentul sebagai sirkuit internasional grade 1A. Namun, mereka tetap memerlukan dukungan dari pemerintah, yang tidak semata-mata terkait dana (APBN).

"Intinya, kami terus bekerja untuk bisa menggelar MotoGP di Indonesia, karena event dunia ini akan membawa banyak benefit untuk negara. Pihak kami juga memastikan tidak ada lagi wacana pakai uang negara. Ini akan murni dari swasta. Tapi, karena ini membawa nama Indonesia, bagaimanapun kita semua memerlukan dukungan dari pemerintah,” ujar General Manager Sirkuit Internasional Sentul, Lola Moenik.

Baca juga:
Berapa Ongkos Menggelar MotoGP, dan Apa Benefitnya?
Swasta-Pemerintah Bergandengan, Sentul Tegaskan Kesiapannya Jadi Venue MotoGP Indonesia ]


(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads