Rider Inggris 30 tahun itu membela panji Yamaha Tech 3 pada musim 2013. Di musim terakhirnya bersama tim yang ia bela sejak 2011 tersebut Crutchlow meraih dua pole, naik podium empat kali, dan finis kelima di klasemen akhir. Itulah musim terbaiknya di MotoGP.
Untuk tahun 2014, Crutchlow tampil untuk tim Ducati. Bukan musim yang mudah karena ia pada akhirnya hanya bisa menutup musim dengan berada di posisi 13 klasemen, meskipun sempat satu kali naik podium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama beberapa tahun ini saya seperti ikut tumbuh dengan pabrik motor dari tim. Tapi pada momen itu, situasinya sulit karena saya seperti jadi Fernando Alonso-nya MotoGP, saya sepertinya datang pada waktu yang keliru ke setiap tim. Ketika saya sudah pergi, semuanya malah mulai jadi bagus!" ujar Crutchlow seperti dilansir MotoGP.com.
Di F1, sejak musim lalu Alonso membela tim McLaren-Honda dan sejauh ini belum bisa mendapat hasil memuaskan; musim lalu ia cuma bisa dua kali finis. Sementara Ferrari yang ia tinggalkan justru sudah memperlihatkan indikasi kebangkitan.
"Saya tidak menyesali keputusan yang saya buat, pada setiap saat tersebut saya sudah membuat keputusan yang tepat. Terkadang Anda mengingat-ingat yang sudah terjadi dan berpikir, 'Ah mungkin pekan ini akan lebih mudah kalau aku menunggangi motor lain', tapi saya memiliki apa yang saya pupnya dan saya harus melakukan pekerjaan terbaik dengannya," kata Crutchlow.
Musim ini Cruthclow tetap bersama LCR Honda--niscaya berharap adanya kesinambungan dari musim lalu, berbeda dari beberapa musim terakhir. Setelah memulai dengan tak oke pada MotoGP Qatar, akibat terjatuh dan gagal finis, pada akhir pekan ia akan menghadapi MotoGP Argentina, tempatnya finis di posisi tiga pada musim lalu.
"Berada dengan LCR Honda untuk tahun kedua terasa menyenangkan, mereka bekerja amat dekat dengan Honda dan mereka bekerja keras untuk melakukan pekerjaan terbaik yang mereka bisa," sebutnya.
(krs/mfi)










































