Pelajaran-pelajaran yang Membuat Marquez Bangkit di 2016

Pelajaran-pelajaran yang Membuat Marquez Bangkit di 2016

Doni Wahyudi - Sport
Rabu, 27 Jul 2016 01:36 WIB
Pelajaran-pelajaran yang Membuat Marquez Bangkit di 2016
Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images
Jakarta - Akhir musim 2015 yang sulit dan latihan pramusim 2016 yang mengecewakan membuat Marc Marquez diprediksi menjalani musim sulit di 2016 ini. Setelah separuh musim, dia ternyata ada di puncak klasemen.

Di awal 2016 ini Marquez kalah cepat 1,3 detik dari Yamaha tunggangan Jorge Lorenzo saat digelar sesi latihan pramusim di Sirkuit Sepang. Kondisi itu sejatinya sudah diprediksi sejak akhir 2015, di mana Honda dinilai bakal kesulitan dengan perangkat elektronik baru dan juga kedatangan Michelin sebagai suplier ban.

Keadaan tersebut memunculkan banyak prediksi kalau Marquez bakal sangat sulit untuk bisa kembali bertarung dalam perebutan gelar juara dunia. Apalagi pebalap kelahiran 1993 itu menjalani periode yang sulit terkait 'perseteruannya' dengan Valentino Rossi di penghujung 2015.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tes di Sepang sangat, sangat, sangat sulit. Terutama karena perangkat elektronik. Untuk Marquez, perkembangannya terhadap perangkat elektronik tersebut sangat besar. Tapi dia belum 100% puas dengan motornya, tapi performanya cukup stabil," ucap Tim Manajer Honda, Livio Suppo.

Marquez boleh saja tercecer di tes pramusim, tapi kini di separuh kompetisi dia bertengger di puncak klasemen dengan keunggulan 48 poin dari Lorenzo sebagai pesaing terdekat. Dibanding periode yang sama musim lalu, Marquez di tahun ini punya 56 poin lebih banyak. Sebuah indikasi yang bagus untuknya dalam upaya merebut kembali mahkota juara MotoGP.

"Tidak terkejut, saya sungguh puas. Itu menunjukkan kalau Marquez cerdas. Dia sudah belajar banyak," lanjut Suppo saat ditanya soal perkembangan signifikan Marquez dibanding musim lalu.

"Karena dia sudah memenangi dua gelar juara, orang sering lupa seberapa muda dia (23 tahun). Tahun lalu adalah musim ketiganya di MotoGP, dan terjadi setelah dia mendominasi musim 2014. Pada usia itu adalah sesuatu yang normal kalau Anda berpikir Anda tidak terkalahkan. Dan ini membuat Anda melakukan hal-hal yang tak perlu di balapan."

"Saya pikir dia sudah belajar sendiri dari hal-hal tersebut. Semua pebalap memiliki super ego dan jika mereka tidak sungguh-sungguh mengerti diri mereka sendiri, merasakan ada sesuatu dalam diri mereka, maka mereka tidak akan bisa berubah. Jadi, terkadang di tahun lalu setelah terjatuh, Marc berkata 'Saya tidak akan berubah'," papar Suppo dalam wawancaranya dengan Crash.

Lalu kapan Marquez mulai sadar kalau ada yang salah dari dirinya dan perubahan harus secepatnya dilakukan? Itu terjadi di akhir musim 2015. Saat dia kehilangan gelar juara dunia dan menyadari di sepanjang musim dia enam kali gagal menuntaskan balapan.

"Di akhir musim lalu saat Anda melihat enam nol poin - enam nol poin! - dan Anda tetap berada di posisi tiga klasemen pebalap. Itu artinya dengan lebih sedikit kesalahan, saya tidak akan bilang Marc bakal jadi juara dunia, tapi pastinya dia akan bertarung menjadi juara dunia sampai benar-benar terakhir," lanjut Suppo. (din/raw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads