Cepatlah Pulih, Sete

Jelang MotoGP Portugal

Cepatlah Pulih, Sete

- Sport
Rabu, 13 Apr 2005 13:38 WIB
Jakarta - Baru satu seri publik MotoGP mungkin sudah bisa dapat gambaran siapa entertainer kompetisi musim ini. Biar Valentino Rossi tidak one man show, keagresifan Sete Gibernau amat diperlukan.Maaf buat fans Max Biaggi, Alex Barros, Shinya Nakano, Loris Capirossi, atau Marco Melandri dan lain-lain. Tanpa bermaksud mengecilkan mereka, namun peta persaingan utama di ajang MotoGP tahun ini tampaknya masih menunjuk pada Rossi dan Gibernau.Hal tersebut bisa dilihat dari dua musim terakhir di mana kedua rider yang umurnya terpaut tujuh tahun itu selalu berkejaran sengit, meskipun ujung-ujungnya Rossi-lah yang tampil sebagai juara dan Gibernau runner up.Insiden di Jerez akhir pekan lalu kian mengentalkan bukan hanya pertarungan skil membalap tapi juga perlombaan emosi mereka. Konon mereka sudah lama tidak akrab secara individu. Beda misalnya dengan Biaggi terhadap Rossi. Mungkin karena Biaggi tak pernah bisa mengalahkan Rossi, belakangan ini bekas raja kelas 250cc itu tak lagi sesinis dulu terhadap rekan senegaranya itu.Tapi Gibernau boleh dibilang belum (terlalu) kalah dari Rossi. Musim lalu ia bahkan sangat merepotkan "The Doctor". Namun kemenangannya di empat seri (Jerez, Le Mans, Brno, dan Losail) tidak cukup buat meghentikan laju Rossi yang berhasil meraup delapan kemenangan, dan menggodol tropi keempatnya berturut-turut di kelas primer (500cc dan MotoGP).Usai kejadian hari Minggu (10/4/2005) lalu Gibernau tak banyak bicara tentang senggolannya dengan Rossi. Namun publik tidak melihat ada senyum akrab ketika keduanya berpapasan setelah lomba yang dramatis itu.Drama semacam di Jerez tersebut pernah pula dilakoni Gibernau dan Rossi beberapa kali. Pada MotoGP Prancis 2003, sewaktu keduanya masih membela Honda, mereka bertarung sengit dalam hujan deras. Di sisa 13 lap di tikungan terakhir Gibernau mendahului Rossi dan keluar sebagai pemenang.Masih di tahun yang sama, Rossi kembali gagal mengalahkan Gibernau di Sachsensring, Jerman. Berusaha menyusul lawannya dari sudut sempit di tikungan, Italiano kelahiran 16 Februari 1979 itu terpaksa gigit jari. Namun dua minggu kemudian giliran Rossi mempecundangi Gibernau di sirkuit Brno, Repulik Ceko. Masih dramatis, ia memastikan kemenangannya di tikungan terakhir. Musim lalu, setelah Rossi mengganti motornya dengan Yamaha, perseteruan kedua pembalap handal ini kian terasa. Sedikitnya empat kali mereka bertarung ketat guna memperebutkan podium juara. Dua yang paling seru terjadi di Assen, ketika ban depan motor Gibernau sempat menyentuh ban belakang Rossi di sebuah trek lurus; dan di Qatar saat Rossi terkena penalti dan gagal naik podium gara-gara kubu Gibernau memprotes seorang kru Yamaha yang membersihkan sisa ban Rossi menjelang start.Begitulah gambaran betapa persaingan Rossi dan Gibernau diperkirakan akan tetap tinggi musim ini. Apalagi Honda telah menyandarkan harapan utamanya pada Gibernau karena enam pembalap mereka yang lain, yakni Biaggi, Barros, Melandri, Nicky Hayden, Troy Bayliss, dan Makoto Tamada, tampaknya belum punya greget sebaik Gibernau.Sayang, di saat api rivalitas di antara keduanya mulai terpercik, Gibernau dikhawatirkan tidak bisa berlomba di Estoril akhir pekan ini. Ia mengaku bahunya masih terasa nyeri gara-gara menyenggol setang motor Rossi tempo hari.Sejauh ini belum ada keputusan final apakah ia betul-betul bakal absen atau tidak. Namun, demi kontinyuitas dari tingginya perseteruan mereka, mudah-mudahan saja Gibernau bisa cepat pulih sehingga tidak berlama-lama buat membalas kekalahannya. Kalau di Estoril bisa, kenapa harus menunggu di Shanghai (1/5/2005) dan seterusnya? (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads