Gibernau Termakan Dendam Sendiri
Senin, 18 Apr 2005 12:27 WIB
Jakarta - Hingga setengah balapan Sete Gibernau seakan sudah dekat dengan pembalasan dendamnya atas Valentino Rossi. Namun dendam tersebut justru menghancurkannya.Setelah musim lalu gagal membungkam Rossi yang baru bergabung dengan tim Yamaha, tahun ini Gibernau kembali mengusung target lama yakni menghentikan kebangkitan tim Yamaha bersama Rossi.Namun di seri pertama MotoGP pekan lalu di Jerez, Gibernau kembali terpaksa melihat ekor motor Rossi menjelang garis finis setelah memimpin hampir sepanjang lomba. Perasaan ingin segera mengalahkan Rossi pun kian besar dirasa Gibernau.Pada kesempatan kedua di Estoril kemarin (Minggu 17/4/2005) Gibernau hampir saja menuntaskan asanya untuk mengunguli "The Doctor". Cedera bahu yang dialaminya akibat benturan di Jerez dan terjatuh di sesi latihan di Estoril, tidak menghentikan tekadnya untuk tetap membalap.Meski sempat diragukan banyak pihak, Gibernau kemudian membalikkan prediksi banyak orang dengan melejit di depan sendirian, jauh di depan Rossi dan Alex Barros yang sangat mendominasi sejak sesi latihan hingga kualifikasi.Jika di Estoril kemarin Gibernau tetap memimpin hingga akhir lomba, maka cerita pembalasan dendamnya akan sangat sempurna. Rasa kecewa di permalukan Rossi di depan publiknya sendiri pekan lalu, akan terbalas dengan menjadi penyebab kegagalan Rossi menorehkan rekor enam kali berturut-turut juara seri. Selain itu tentu saja saat ini Gibernau akan bertengger di puncak klasemen sementara di atas Rossi.Namun mimpi indah Gibernau itu buyar setelah terpeleset di lap ke-16. Saat akan menikung ke kanan, Gibernau masih tetap dengan kecepatan seperti pada lap-lap sebelumnya. Padahal saat itu permukaan trek sudah mulai basah karena rintik hujan yang tidak terlalu deras.Termakan dendam:Bagi para penggemar Gibernau, keputusan idolanya untuk terus melaju hingga akhir balapan mungkin menjadi tontonan yang menarik. Bagaimana tidak tiap lapnya Gibernau semakin jauh memimpin di depan, dan yang lebih penting jauh mengungguli Rossi.Namun keputusan Gibernau ini justru berakibat fatal. Di saat bendera putih sudah dikibarkan tanda hujan turun dan motor cadangan telah disiapkan, Gibernau terus menggeber motornya dengan semangat. Padahal beberapa pembalap di belakangnya telah menjadi korban licinnya permukaan lintasan, terpeleset dan berhenti dari lomba.Pilihan Gibernau tidak masuk pitstop dan mengganti motor cadangan yang di set menggunakan ban basah, memang tidak bisa disalahkan. Kenyataannya tidak satu pun pembalap yang mengganti motornya. Namun yang menjadi masalah adalah keputusannya untuk tetap melaju kencang, di saat jarak dengan para pesaingnya semakin jauh di tiap lap. Hal ini disebut-sebut karena nafsunya untuk membalaskan dendamnya terhadap Rossi. Tentunya Gibernau tidak akan mau ambil resiko ditempel oleh Rossi atau pembalap lain, dan di overtake di lap terakhir seperti seri sebelumnya.Kesalahan ini tidak asal dituduhkan, Gibernau sendiri mengakui kalau dirinya memang salah perhitungan menggeber motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi saat jenis ban yang digunakannya tidak sesuai dengan kondisi permukaan trek."Satu-satunya kesalahan yang saya lakukan adalah saya ingin memimpin dari start hingga akhir. Itu merupakan balapan yang sangat berat, dan sangat penting menilai keputusan offsial mengibarkan bendera karena itu merupakan satu-satunya dasar yang saya miliki untuk menilai seberapa basah kondisi lintasan," ujarnya.Gibernau mengaku bahwa dirinya selalu melambatkan motornya beberapa kali. "Saya sudah melambatkan motor saya lebih dari biasanya. Namun ternyata itu tidak cukup," lanjutnya.Apes bagi Gibernau justru keuntungan bagi pembalap lain yang melihat langsung kecelakaannya. Kontan setelah itu pembalap lain semakin memperlambat kecepatannya. Akibatnya mulai dari lap ke-16 hingga finis, hampir tidak ada pergantian posisi kecuali Colins Edwards yang juga sempat terpeleset. Akibat tidak menyelesaikan balapan jarak antara Gibernau dengan Rossi semakin lebar yakni 25 poin. (lom/)











































