Lorenzo mengumumkan meninggalkan Yamaha, tim yang telah diperkuatnya selama sembilan tahun, untuk hijrah ke Ducati di awal musim 2016. Pebalap Spanyol itu menjadi salah satu yang paling dinantikan kiprahnya di musim baru yang akan bergulir pekan depan.
Pasalnya, sampai sekarang hanya juara dunia MotoGP dua kali Casey Stoner yang bisa menjinakkan motor Desmosedici. Mantan pebalap asal Australia itu sukses membawa Ducati menjadi nomor satu di 2007, lalu finis kedua dan keempat di dua tahun berikutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, mulai muncul kekhawatiran Lorenzo akan bernasib sama seperti Valentino Rossi yang gagal bersama Ducati. Meski demikian, Lorenzo tidak akan menyerah untuk memaksimalkan periodenya di pabrikan Italia itu.
"Motivasiku (bergabung Ducati) adalah fakta bahwa hanya ada sedikit pebalap yang menang dengan dua motor yang berbeda. Salah satunya yang berhasil dengan Ducati adalah Stoner," ungkap Lorenzo kepada Marca, yang dilansir GPOne.
"Aku juga ingin merasakan hidup kembali, mencoba motor yang berbeda, dan bekerja dengan orang-orang yang berbeda di lingkungan yang berbeda dengan warna yang berbeda."
Dalam kesempatan itu, Lorenzo turut mengungkapkan kekecewaannya dengan direktur olahraga Yamaha Maio Meregalli. Belum lama ini, Meregalli pernah menyatakan, "atmosfer di tim sekarang lebih tenang" setelah Maverick Vinales masuk menggantikan Lorenzo.
"Kupikir itu adalah sebuah pernyataan yang sangat tidak pantas," sembur Lorenzo. "Dia sangat memihak Rossi, dan ketika aku pergi dia mengeluarkan ucapan demikian."
Hubungan Lorenzo dan Rossi memang nyaris tidak pernah harmonis. Beberapa tahun lalu, dinding pemisah sampai harus dibangun di garasi mereka dan perselisihan itu meruncing lagi di perebutan gelar juara dunia 2015, yang turut menyeret Marc Marquez.
(rin/din)











































