DetikSport
Selasa 12 Desember 2017, 18:05 WIB

Tahun yang Berat buat Yamaha, tapi Bukan Tahun Malapetaka

Kris Fathoni W - detikSport
Tahun yang Berat buat Yamaha, tapi Bukan Tahun Malapetaka Valentino Rossi dan Maverick Vinales (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images)
London - Menjelang berakhirnya tahun 2017, Managing Director Yamaha Racing Lin Jarvis membahas kiprah timnya di MotoGP. Ia menyebutnya sebagai tahun berat.

Yamaha memulai 2017 dengan menjanjikan setelah Maverick Vinales meraih tiga kemenangan dalam lima seri awal musim. Tapi setelah itu ia kesulitan meraih hasil serupa sampai akhirnya menyudahi musim di posisi ketiga klasemen akhir.

Sementara Valentino Rossi, rekan setimnya di Movistar Yamaha, mengalami dua masalah fisik yang mengganjal lajunya setelah naik podium di tiga seri awal. Ia finis di posisi lima klasemen akhir dengan koleksi satu kemenangan di Assen.

"Setidaknya kami punya Maverick di posisi ketiga kejuaraan dunia. Jadi itu sama sekali bukan tahun malapetaka. Secara total kami memenangi empat balapan, tiga dengan Maverick di awal musim, satu lewat Vale di pertengahan musim," kata Jarvis di Crash.net.

"Secara garis besar musim kami tercermin dari kemenangan di awal lalu sulit meraihnya lagi semenjak (seri kelima) dengan Maverick. Kami memulai tes musim dingin tahun lalu dengan bagus. Kami mengawali musim dengan tangguh di balapan-balapan awal. Kami memenangi tiga dari lima seri balapan pertama dan kemudian menghadapi kesulitan yang tidak kami duga, di sirkuit-sirkuit yang biasanya kami kuasai."

"Jadi dari aspek teknis kami melewati tahun yang sulit, berusaha menemukan solusi dari masalah-masalah yang pada umumnya terjadi ketika kami menemui kondisi dengan daya cengkeram rendah, baik karena cuaca hujan maupun tarmac-nya. Jadi sejak itu kami sudah kesulitan dalam hal tersebut, juga memoles motor, mengganti sasis," tuturnya.

Tak ada yang lebih pas menggambarkan peruntungan Yamaha ketimbang seri balapan Jepang dan Australia yang dilangsungkan secara berurutan. Secara berurutan Vinales finis ke-9 lalu posisi ketiga, sedangkan Rossi DNF dan kemudian jadi runner-up.

"Terkadang kami menghadapi situasi yang sedikit terasa seperti sebuah bencana. Motegi adalah contoh bagus saat hasilnya sangat mengecewakan," ujar Jarvis.

"Dan pada saat rasanya buruk sekali kami ke Phillip Island dan tiba-tiba memiliki daya cengkeram, matahari yang bersinar, dan kami tampil luar biasa, mampu berusaha meraih kemenangan. Jadi kami sudah melewati situasi-situasi ekstrem macam begitu dan ini sudah menjadi tahun yang berat. Tentu saja kami juga harus menghadapi cederanya Valentino. Cedera tepat sebelum kedua balapan kandangnya. Pertama di Mugello saat ia kecelakaan motokros dan tentu saja mengalami patah kaki sebelum Misano. Tapi ia bangkit."

"Jadi ini bukanlah tahun yang buruk, walaupun tentu saja kami terbiasa lebih baik lagi. Kami tidak mampu berada di dua besar, jadi kami punya banyak pekerjaan untuk dilakukan," katanya.

Jarvis juga mengapresiasi performa Johann Zarco dari tim Monster Yamaha Tech 3, yang sukses menggondol predikat rookie terbaik setelah meraih tiga podium dalam musim debutnya. Ia finis di posisi keenam klasemen akhir.

"Saya ingin memuji Johan Zarco. Saya pikir memenangi predikat rookie terbaik dan tim Independen terbaik adalah sesuatu yang harus mereka banggakan. Dan itu memperlihatkan fondasi kami bagus, tapi kami harus lebih oke lagi untuk mengalahkan rider top lain," ucapnya.




(krs/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed