Doohan: Stoner Pesaing Rossi
Selasa, 13 Mar 2007 15:20 WIB
Adelaide - Setelah menyodok ke posisi teratas MotoGP Qatar, Casey Stoner panen pujian. Mantan juara balap 500cc, Mick Doohan, bahkan meyakini Stoner-lah pesaing Valentino Rossi untuk meraih gelar juara. Stoner memang tampil memikat pada seri perdana MotoGP musim 2007. Tidak dijagokan, pembalap 21 tahun asal Australia mampu memenangkan balapan setelah bertarung head-to-head dengan juara dunia lima kali di kelas primer, Rossi. Yang luar biasa, aksi Stoner di Qatar merupakan debutnya bersama Ducati. Tahun lalu pembalap bernomor motor 25 tahun itu membuat debutnya di MotoGP bersama Honda LCR. Walau terhitung "anak bawang" di kelas primer, Stoner mampu membuat banyak pihak tercengang. Tidak terkecuali mantan juara dunia lima kali di kelas 500cc, Mick Doohan. "Casey telah menunjukkan kedewasaannya. Dia tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Rossi membuat banyak tekanan dan dia tetap perkasa," puji Doohan kepada Herald Sun seperti dikutip Crash. "Saya pikir sudah sejak lama dia mengancam untuk meraih juara. Sekarang tinggal tunggu waktu saja," sambung mantan pembalap asal Australia itu. Begitu terkesannya dengan Stoner, Doohan meyakini kalau pemuda kelahiran kota kecil bernama Kurri-Kurri itu adalah pesaing Rossi. Alasannya, ia memiliki kualitas. "Saya pikir dia (Stoner) mampu menandingi laju Rossi. Dia jelas cepat. Dia hanya perlu menundukkan sisi liarnya," ungkap Doohan. "Dia (Stoner) bukannya tak berpengalaman. Dia sudah lama bergelut di sini walau ini baru musim keduanya di MotoGP. Dia telah membalap di GP sejak usianya 15 tahun jadi dia tahu apa yang harus dilakukannya dan kenal dengan trek-trek di kompetisi ini," sambung mantan pembalap yang kini berusia 41 tahun itu. Walau memuji setinggi langit pemuda asal negerinya itu, Doohan memperingatkan Stoner supaya membenahi kelemahannya. Apa itu? "Kebiasaan" suka terjatuh. "Dia (Stoner) mirip seperti Kevin Schwantz, yang memenangkan titel juara dunia bersama Suzuki. Dia pembalap yang cepat, walaupun suka tampil mengkhawatirkan. Bagaimanapun, lebih mudah mengajar seorang pembalap yang cepat supaya tidak jatuh ketimbang mengajari pembalap yang lambat bagaimana caranya menjadi cepat," tukas pembalap yang pernah menjadi kepala mekanik Rossi sewaktu di Repsol Honda itu. Musim balap lalu, Stoner tujuh kali mengalami DNF. Pada musim perdananya di kelas primer itu, ia gagal memperoleh gelar debutan terbaik karena hanya meraih posisi delapan di klasemen akhir. (mel/lom)











































