Bos Pramac Ungkap Hal yang Mustahil Ditiru MotoGP dari Formula 1

Bos Pramac Ungkap Hal yang Mustahil Ditiru MotoGP dari Formula 1

Kris FW - Sport
Senin, 03 Agu 2026 18:30 WIB
BARCELONA, SPAIN - MAY 16: The MotoGP race start during the Sprint ahead of the MotoGP of  Catalonia at Circuit de Barcelona-Catalunya on May 16, 2026 in Barcelona, Spain. (Photo by Gold & Goose Photography/Getty Images)
Foto: Getty Images/Gold & Goose Photography
Jakarta -

Bos Pramac Yamaha, Paolo Campinoti, menilai MotoGP tidak bisa meniru sepenuhnya kesuksesan Formula 1 dalam mengembangkan bisnis olahraga. Menurutnya, ada satu aspek yang "mustahil" direplikasi oleh MotoGP.

Dalam beberapa tahun terakhir, Formula 1 berkembang pesat bukan hanya sebagai ajang balap terbesar di dunia, tetapi juga menjadi salah satu olahraga dengan nilai komersial tertinggi.

Hal itu didorong oleh keberhasilannya menarik penonton yang lebih muda, lebih beragam, sekaligus menciptakan pengalaman premium bagi para penggemar. Campinoti mengakui Formula 1 kini memiliki karakter penonton yang berbeda dengan MotoGP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Formula 1 saat ini memiliki penonton yang berbeda dengan kami," kata Campinoti dalam podcast Mig Babol milik Andrea Migno, seperti dikutip GPOne.

"F1 sudah bergeser sepenuhnya ke segmen premium, sehingga masih ada banyak ruang bagi kami untuk menempatkan MotoGP pada posisi yang lebih baik."

Meski demikian, Campinoti menilai MotoGP tidak realistis jika ingin mengikuti Formula 1 hingga ke level yang sama. Di F1, tiket Paddock Club bisa dijual lebih dari 15 ribu euro atau sekitar Rp 284 juta (dengan kurs sekitar Rp 18.900 per euro).

"Itu bukan langkah yang tepat, dan mustahil mencapai level seperti itu. Tetapi kami tentu bisa bergerak sedikit ke arah sana," ujarnya.

MotoGP Diminta Fokus Tambah Pendapatan

Campinoti juga menyoroti strategi MotoGP dalam beberapa tahun terakhir yang lebih banyak berfokus pada efisiensi biaya. Berbagai kebijakan telah diterapkan, seperti penggunaan satu pemasok ban, sistem elektronik standar, pengurangan sesi latihan, hingga pemangkasan jadwal di kelas Moto2 dan Moto3.

Namun, menurutnya, pendekatan tersebut tidak akan membawa perubahan besar. "Untuk meningkatkan pendapatan, kami perlu melakukan sesuatu yang sedikit lebih... sulit dijelaskan, tetapi lebih menarik," katanya.

"Kalau kita terus bicara menghemat 100 euro untuk biaya transportasi, silakan saja. Memang ada penghematan. Tetapi perubahan yang sesungguhnya datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memangkas biaya."

Pernyataan Campinoti muncul ketika MotoGP memasuki tahun pertama di bawah kepemilikan Liberty Media, perusahaan yang juga memiliki Formula 1.

Di bawah Liberty Media, Formula 1 sukses memperluas pasar global dan meningkatkan nilai komersialnya secara signifikan. Di sisi lain Campinoti menilai MotoGP tetap harus mencari jalannya sendiri, bukan sekadar meniru model bisnis F1.

(krs/nds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads