DetikSport
Rabu 04 April 2018, 09:05 WIB

Herry IP Poles Kevin/Marcus dan Ganda Putra Lainnya Bak Ciptakan Karya Seni

Femi Diah - detikSport
Herry IP Poles Kevin/Marcus dan Ganda Putra Lainnya Bak Ciptakan Karya Seni Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra pelatnas PBSI (Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta - Herry Iman Pierngadi menganggap mendidik Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan ganda putra lainnya di pelatnas PBSI seperti menciptakan karya seni. Dia tak bisa berlaku otoriter.

Herry sudah menangani pelatnas bulutangkis untuk level utama sejak 1999. Dia meneruskan tongkat estafet dari Christian Hadinata.

Dengan modal pengalaman saat menjadi pemain, 'mencuri' ilmu dari senior--utamanya Christian Hadinata-- , pendidikan di diploma kepelatihan di IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), Herry hanya pernah tergeser satu kali di pelatnas.

[Baca Juga: Cedera Lutut dan Jose Mourinho Punya Andil Dalam Sukses Herry IP]

Dia awet menangani sektor ganda putra, setelah sempat 'dikudeta' Sigit Pamungkas, pelatih dari PB Jaya Raya Jakarta. Herry sudah menjalani dua periode yang cukup panjang, mulai 1999-2008 kemudian keluar dan bergabung lagi mulai 2011 sampai sekarang.

Sederet pemain top dihasilkannya. Termasuk Tony Gunawan/Candra Wijaya yang meraih medali emas Olimpiade 2000 Sydney.

"Melatih itu seni, bisa juga seperti koki. Kalau program boleh sama, belum tentu hasilnya sama. Tangannya beda, matanya beda maka hasilnya akan beda," ujar Herry dalam obrolan dengan detikSport.

Karena menganggap melatih sebagai sebuah kerja seni, Herry pun tak bisa menerapkan gaya otoriter kepada pemainnya. Dia lebih menyukai komunikasi dua arah.

"Dalam menangani pemain, saya menerapkan kepelatihan yang komunikatif. Komunikasi berjalan dua arah antara pemain dan pelatih," kata pelatih 56 tahun itu.

"Saya kurang setuju dengan gaya otoriter. Sebab, kalau otoriter pemain harus mengikuti kita semua, padahal belum tentu cocok sama kami, dua arah itu lebih fleksibel, lebih tahu kemauan masing-masing," ujar Herry.

[Baca Juga: Herry Iman Pierngadi, Sosok di Balik Sukses Kevin/Marcus di All England]

Tapi, Herry menyadari sistem kepelatihan komunkatif bukan tanpa celah. Pernah dia memiliki anak didik yang menyalahgunakan kepercayaan itu.

"Ambil contoh, pemain harus jujur dengan kondisi badan masing-masing, sebab yang tahu kamu sendiri. Masih ada yang menyalahgunakan, mengambil kesempatan dengan nggak sakit, nggak apa, tapi ngaku sakit. Angkatan lalu (di pelatnas) ada, angkatan sekarang nggak ada he he he. Istilah saya pemain sinetron," Herry mengenang kelakuan anak asuhnya.

Kendati menganut sistem kepelatihan komunikatif, Herry tak membiarkan pemain menawar program latihannya. Dia tegas soal satu itu.

"Satu yang jelas, dari segi program, saya nggak bisa diatur pemain. Kalau program lho. Itu pun, saya melihat kondisi pemain. Kalau hari hari kita latihan keras, kondisi badan drop, pelatih akan mencari alternatif," ujar Herry.

"Saya enggak bisa disetir sama pemain, nggak mau. Kalau pemain bisa nyetir, susah. Sejak pemain masih piyik, tahu kan, anak burung, sejak mereka masih muda, masih awal di pelatnas, kami kasih dia pandangan, jangan jadi besar kepala. Di atas langit masih ada langit," Herry menegaskan.

[Gambas:Video 20detik]


(fem/cas)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed