Davydenko, Konsisten Tapi 'Mentok'

Davydenko, Konsisten Tapi 'Mentok'

- Sport
Senin, 17 Nov 2008 00:12 WIB
Davydenko, Konsisten Tapi Mentok
Shanghai - Tahun ini Nikolay Davydenko dinilai sebagai salah satu petenis berpenampilan paling konsisten. Namun, jika dalam empat tahun berturut-turut selalu finish di peringkat lima, ada yang 'mentok' pada dia.

Davydenko sendiri yang merasakan keadaan tersebut setelah dia kalah 1-6 5-7 dari Novak Djokovic di final Piala Masters, Minggu (16/11/2008). Dia merasa tidak puas karena sejak 2004 ia menyelesaikan setiap musim dengan bercokol di posisi lima besar di daftar peringkat ATP.

"Mungkin saya perlu mengubah sesuatu," ujarnya. "Saya tidak tahu, sebenarnya. Saya tidak tahu sekarang harus mengubah apa, tapi kita lihat saja nanti. Saya ingin jauh lebih baik, tidak di nomor lima, empat, tiga, enam, tujuh, delapan."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi Anda butuh sesuatu untuk mengalahkan pemain-pemain top. Nanti-nanti saua harus menemukan kunci untuk menundukkan orang-orang ini," sambungnya, seperti dikutip dari Reuters.

Davydenko dikenal sebagai salah satu pekerja paling keras di dunia tenis pria saat ini. Dan Piala Masters adalah event ke-22 yang ia ikuti di musim ini, tidak termasuk tiga sesi di Piala Davis dan Olimpiade.

Kecuali Miami Masters, ketika mengalahkan Rafael Nadal di final, dua titel yang didapat Davydenko di musim ini relatif dari turnamen minor, yakni di Austria dan Polandia.

"Tidak cuma di turnamen-turnamen kecil," tambah atlet Rusia berusia 27 tahun itu. "Yang penting ada di Grand Slam karena banyak poin tersedia di sana. Kalau Anda bagus di situ, peringkat Anda akan lebih baik dan finish di posisi terbaik."

Davydeko, yang bahkan tak pernah menang dalam 12 pertemuannya dengan pemain nomor dua dunia Roger Federer, mengatakan dirinya perlu meningkatkan kemampuan voli-nya. Namun itu saja tidak dirasa sebagai satu-satunya solusi.

"Saya sangat capek berlatih. Mungkin saya bisa mencari sesuatu untuk mendapatkan power yang lebih, entahlah, supaya saya punya feeling bahwa saya bisa mengalahkan siapapun. Ini juga soal mental."

"Kami berlatih setiap hari. Semua orang berlatih, tapi hanya satu yang nomor satu di dunia."

Mengenai kekalahannya dari Djokovic di final di Shanghai -- juga kalah di babak grup --, Davydenko menilai permainan dirinya memang di bawah lawannya itu.

"Melawan Djokovic Anda harus main sempurna, sangat cepat, dan tampil amat bagus. Dia melakukan itu, dan saya tidak ... Biasanya saya main cepat dan punya kontrol yang bagus. Tapi hari ini tidak. Djokovic main baik sekali. Buat saya, hari ini sangat sulit."

Davydenko sempat mengamankan dua match point di skor 5-3 di set kedua. Dia juga baru mem-break lawannya di kedudukan 5-5. Namun setelah itu Djokovic tidak memberinya kesempatan lebih banyak. Davydenko kalah ketika pukulannya tidak menyeberang net.

"Apa yang di benakku waktu poin terakhir? Saya berpikir, 'oh, baguslah, musim ini akhirnya selesai," tukas Davydenko.

(a2s/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads