Pemain putri Rusia unggulan kedelapan itu merasa kesal atas kebijakan tersebut, yang diambil penyelenggara ketika ia bertanding melawan Serena Williams di babak perempatfinal siang ini, Rabu (28/1/2009).
Ketika itu ia sempatΒ berada di atas angin dengan memenangi set pertama dan Serena tampak begitu kepayahan dengan cuaca yang menyengat Rod Laver Arena, di mana suhu sampai mencapai 43 derajat celcius. Kemudian atap arena ditutup dan pertandingan ditunda sekitar setengah jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak penyelenggara mengombinasikan berbagai formula untuk mengatasi masalah panas yang ekstrim ini, mulai dari pemasangan air conditioner, kipas angin besar, radiasi solar, dan pengatur kelembaban, sampai menutup atap stadion.
"Ya, saya jelas marah. Kenapa saya tidak marah," ungkap Kuznetsova kepada reporter usai pertandingan, seperti dikutip dari Reuters.
"Pertandingan sedang saya kendalikan. Saya oke-oke saja bermain dengan atap terbuka. Saya pikir pemain-pemain lain juga menemui cuaca yang sama kemarin. Semuanya bermain dengan atap terbuka. Kenapa hari ini mereka menutupnya? Saya tidak mengerti. Itu sebabnya saya marah."
Kuznetsova menyatakan setuju bahwa menutup atap telah mengubah pertandingan, walaupun dia juga merasa seharusnya bisa memenanginya ketika unggul di set kedua.
"Jelas ini sebuah perubahan besar (menutup atap stadion). Saya sangat nyaman bermain di luar. Saya lihat ini berat buat dia (Serena). Ini ... tidak sangat mudah buat saya, tapi saya mengatasinya dengan cukup baik."
"Saya rasa jelas perbedaannya, bermain di dalam dan di luar ruangan," sambungnya. "Tak masalah sebenarnya. Kesempatan itu sempat tetap menjadi milik saya. Sekalipun atao sudah ditutup, saya unggul 5-3, 5-4, servis untuk menutup permainan. Hanya saja saya gagal di situ."
(a2s/roz)











































