Soal Mulyo, Taufik membantah bahwa dia meninggalkan pelatnas karena merasa kecewa lantaran pelatih "sehatinya" itu tak lagi dipanggil untuk bekerja di Cipayung. Kalaupun ketidakpuasan itu ada, katanya,Β hal tersebut faktor nomor kesekian.
"Sebelum dia keluar pun saya sudah memikirkan mundur," ungkap Taufik kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/1/2009), seraya mengatakan pikiran mundur itu mulai membayang di benaknya sejak mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Olimpiade 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sudah tahu betul seluk-beluk kehidupan saya, tahu banget kepribadian saya. Dia sudah seperti teman, pelatih, dan juga orangtua buat saya," ujar Taufik tentang pelatih yang sudah menanganinya sejak 1997 itu.
Pada kesempatan yang sama Taufik juga merefleksi hubungan lamanya dengan PB PBSI, yang mana ia cukup sering terlibat konflik. Menurut bapak satu anak ini, hal-hal itu sudah jadi masa lalu dan lumrah terjadi.
"Di keluarga kecil saja pasti punya konflik, apalagi di keluarga besar seperti PBSI," tukasnya. Β
Taufik juga tak lupa memberi testimoni tentang PBSI yang telah menaunginya selama 12 tahun. Dia berharap organisasi bulutangkis ini lebih baik lagi kinerjanya, terus melakukan regenerasi, dan lebih terbuka dalam hubungan antara pengurus, pelatih dan pemain.
Saat ditanya momen paling berkesan selama menjadi pemain pelatnas, atlet berusia 27 tahun itu menjawab. "Saat ini, saat saya memutuskan keluar dari PBSI. Ini berat sekali."
(a2s/key)











































