Nadal baru saja mengalami laga ketat di semifinal. Jadwal semifinal yang dia mainkan pun berdekatan dengan final. Jadi, petenis nomor satu dunia ini hanya punya sedikit waktu untuk pemulihan.
"Saya mengakhiri semifinal dengan kondisi kurang baik pada kaki kanan, hamstring, dan otot quadricep (otot utama lutut)," kata Nadal dikutip dari Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kekhawatiran dan rasa sakit itu tidak menghalangi Nadal untuk meraih gelar juara Australia Terbuka 2009. Ia sukses mengatasi perlawanan Federer di laga puncak dalam pertarungan lima setΒ berdurasi hampir empat setengah jam.
Petenis berusia 22 tahun ini mengungkap rahasia di balik kisah suksesnya. Ia menjadi juara, usai menerima masukan dari sang pelatih sekaligus sang paman, Antoni Nadal.
"Saya sudah bicara dengan pelatih tentang apa yang saya rasakan. Lalu beliau berkata agar saya tetap tampil total, terus bertarung dengan gigih, serta percaya bahwa kemenangan itu akan datang," tutur Nadal.
Nadal meraih tital Grand Slam keenamnya setelah empat berturut-turut menguasai Prancis Terbuka, plus Wimbledon 2008. Ia menjadi orang pertama sejak Andre Agassi yang memenangi Grand Slam di tiga jenis lapangan berbeda, dan di usia 22 tahun dia masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengejar titel besar yang belum dicapainya, AS Terbuka.
"Ini sangat spesial. Mimpi bisa menang di sini, di grand slam lapangan hard court," tukasnya. "Saya bekerja sangat keras ... sepanjang hidupku untuk meningkatkan kemampuan bermain di luar clay court."
"Saya sudah punya enam lagi, saya senang dengan yang enam ini. Setiap titel sulit untuk dimenangi. Saya tak tahu apakah akan menang lagi, tapi pastinya saya akan tersebut mencoba."
"Waktu saya memenangi yang pertama, saya tak tahu apakah bisa menang lagi. Kita tak pernah tahu kapan akan berhenti. Jadi, waspada saja dan tetaplah rendah hati."
(a2s/key)











































