PadaJanuari 2006 Federer spontan menangis saatΒ memberi sambutan seusai mengalahkan Marcos Baghdatis di final. Tangisan itu adalah tangisan kemenangan, tangisan kebahagiaan, setelah ia memenangi titel Australia Terbuka-nya yang kedua.
Tadi malam, Minggu (1/2/2009), bintang Swiss berusia 26 tahun itu menangis lagi. Ia tak bisa berbicara banyak di podium karena tak kuasa menahan emosinya. Ia sampai diberi waktu "istirahat" dari pidato karena terlalu lama meluapkan kesedihannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Federer menangis karena kalah lagi dari Rafael Nadal. Tertunda pula ambisinya menyamai rekor Pete Sampras memenangi 14 gelar Grand Slam.
"Ya Tuhan, ini membunuh saya. Saya mencintai permainan ini, permainan ini adalah segalanya bagi saya dan itu sungguh menyakitkan ketika kamu kalah," lirih Federer.
Fedex pun segera menghibur dirinya sendiri. "Namun Anda tidak bisa kemudian pergi ke ruang ganti, kemudian mandi air dingin. Santai saja. Anda akan segera keluar dari masalah ini," tuturnya.
Tangis Federer mendatangkan simpati dari Nadal. Ia pun datang untuk menghibur sang rival. "Maaf untuk kejadian hari ini. Saya tahu perasaan Anda sekarang. Ini benar-benar berat," kata Nadal.
"Tapi ingat, Anda adalah juara sejati. Anda salah satu petenis terbaik dalam sejarah dan Anda sedang memburu rekor Sampras. Saya tahu Anda akan berhasil melakukannya," tambah petenis yang baru pertama kali juara Australia Terbuka ini.
(a2s/key)











































