Tuduhan tersebut dicetuskan Sidek dari pertandingan semifinal tunggal putra All England hari Sabtu (7/3/2009) lalu, ketika pemain nomor dua dunia Lin Dan lolos ke final setelah lawannya, Chen Jin, kalah mundur lantaran cedera.
Efeknya, Lin Dan menjadi lawan pemain nomor satu asal Malaysia, Lee Chong Wei, di final tadi malam. Hasilnya, Lin Dan tampil sebagai pemenang dan menjadi juara, sama seperti ia menundukkan lawan yang sama di final Olimpiade Beijing tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada harian Monday's Star Sidek mengatakan, taktik tersebut mulai digunakan China di event-event yang menjadi kualifikasi untuk Olimpiade 2008, di mana kemudian negara tersebut memenangi tiga dari lima medali emas yang diperebutkan di event terbesar dunia itu.
"Semua orang di dunia bulutangkis membicarakan soal ini. Mereka (China) tahu reaksi kami, tapi mereka tak peduli," tukas Sidek, seperti dikutip dari Reuters, Senin (9/3/2009).
"Mereka tak melihat bahwa aksi-aksi mereka membawakan sebuah reputasi buruk pada olahraga ini. Ya, ini mempengaruhi keseluruhan olahraga ini," sambungnya.
"Kami (Malaysia) tidak memberi ampun pada taktik-taktik seperti ini. Buat kami, yang kami inginkan adalah pemain terbaik di hari itu adalah yang menjadi pemenang."
China untuk pertama kalinya menyapu bersih semua nomor di kejuaraan All England tahun ini. Khusus Lin Dan, ia mengoleksi titelnya di turnamen bergengsi itu untuk keempat kalinya, setelah menang 21-9 21-12 atas Lee Chong Wei.
(a2s/a2s)











































