Murray, yang sudah mengantongi tiga titel di musim ini, punya reputasi tak keren di event clay-court. Di Grand Slam Prancis Terbuka misalnya, capaian terbaiknya baru sebatas babak ketiga yang dibuatnya tahun lalu.
Sejak kegagalan di Roland Garros itu Murray merekrut mantan runner up dua kali Prancis Terbuka, Alex Corretja, sebagai pelatihnya khusus untuk melakoni musim clay-court, yang akan dimulai di Monte Carlo minggu ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petenis asal Skotlandia itu mendapat bye di babak pertama di Monte Carlo, tempat di mana tahun lalu ia dihentikan Novak Djokovic dengan straight set 6-0 6-4 di putaran ketiga. Di babak kedua nanti ia akan bertemu Victor Hanescu atau Alberto Martin.
Di lapangan tipe lambat ini Murray mengetahui hal-hal penting yang dibutuhkan seorang petenis untuk tampil maksimal.
"Kuat secara fisik itu penting karena di lapangan tanah liat kita harus konsisten dengan mentalitas, pukulan-pukulan kita. Semakin kuat fisik kita, maka kita seperti panik dalam mengatasi perasaan sedikit capek, karena kita tahu kita bisa mengatasinya," tutur pemain berusia 21 tahun itu. "Dan ketimbang lapangan jenis lain, meraih poin di clay lebih penting karena didapat lebih lama."
Ditegaskan Murray, dirinya hanya bertekad tampil bagus dan kemampuannya di tanah liat meningkat dibanding sebelumnya. Ia yakin pemain nomor satu dunia Rafael Nadal masih akan mendominasi.
"Biarkanlah mengalir. Kalau kita memaksakan pergerakan di clay, itu harus dilakukan ketika kita sudah menggabungkan (semua kekuatan). Cobalah untuk membuat kaki terasa ringan," pungkas petenis putra nomor empat dunia itu.
(a2s/a2s)











































