Bermain dengan tenang -- tidak seperti karakternya yang terkenal cukup meledak-ledak --, Kuznetsova berhasil mendominasi Safina dan menundukkan kompatriotnya itu dengan dua set langsung, 6-4 6-2.
"Tentu saja di dalam diriku bergejolak banyak emosi. Tapi aku bisa mengendalikannya," ucap unggulan ketujuh itu, yang juga menilai Safina memiliki tekanan besar sebagai unggulan teratas yang sedang mengincar titel Grand Slam pertamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuznetsova sekaligus mengakhiri rekor 18 kemenangan beruntun Serena Williams di babak perempatfinal turnamen Grand Slam.
"Sudah sangat lama aku menantikan momen ini," ujarnya seusai pertandingan, dikutip dari Reuters. "Sungguh, aku tak menyangka ini terjadi di tahun ini. Tapi aku mengerahkan kemampuan terbaikku, bermain sepenuh jiwa. Pertandingan-pertandinganku luar biasa, aku pun mendapat dukungan yang sangat besar. Inilah turnamen favoritku."
Sementara itu Safina untuk kedua kalinya berturut-turut harus puas menjadi runner up di turnamen lapangan tanah liat ini. Tahun lalu adik kandung Marat Safin ini ditundukkan Ana Ivanovic di babak final.
"Aku kembali ke situasi yang sama dengan tahun lalu," tutur Safina dalam seremoni trofi di lapangan. "Mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa jadi juara di sini."
Bertenggernya Safina di puncak daftar peringkat WTA mendapat banyak kritikan, salah satunya dari mantan juara empat kali Prancis Terbuka Justine Henin, karena dia belum pernah memenangi Grand Slam. Satu final lain yang pernah ia lakoni adalah Australia Terbuka tahun ini, dan Safina kalah dari Serena Wiliams. Pemain 23 tahun itu mulai bertahta sejak April dan akan bertahan setidaknya sampai akhir Juli.
Rekor 16 kemenangan beruntun Safina juga terhenti. Catatan lain, untuk kali kedelapan berturut-turut final Prancis Terbuka di kelompok putri hanya berlangsung dua set. Terakhir kali partai puncak turnamen ini memerlukan tiga set adalah ketika Jennifer Capriati mengalahkan Kim Clijsters di tahun 2001.
"Aku sangat ingin menang. Tapi aku tak mampu mengatasinya," lanjut Safina. "Aku sedikit merana di lapangan, dan tidak melakukan hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Mentalku tidak cukup kuat."
Kembali ke Kuznetsova, saat penyerahan trofi ia menerimanya dari mantan ratu tenis dunia asal Jerman, Steffi Graf, yang pernah enam kali berjaya di Roland Garros.
"Sudah lama aku menonton dia, tapi aku belum pernah bertemu dengannya,β ungkap Kuznetsova. "Hari ini aku berada di locker room, dan hal pertama adalah aku melihat dia. Aku jadi malu dan bilang, 'Hai, aku belum pernah bertemu kamu'. Dia memberiku ucapan semoga sukses. Istimewa sekali bahwa dia yang memberiku trofi ini."
(a2s/a2s)











































