Mimpi buruk Federer di Prancis Terbuka berakhir beberapa jam lalu. Kemenangan atas Robin Soderling dalam pertandingan final mengantar petenis Swis itu memenangi gelar perdananya di Roland Garros.
"Ini mungkin kemenangan terbesar sepanjang sepanjang karir saya. Hasil tersebut mengangkat begitu banyak tekanan. Sekarang saya akan bisa bermain dengan tenang di sepanjang karir saya," ungkap Federer usai pertandingan seperti diberitakan Yahoosport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka saat Nadal dihentikan Soderling di babak ketiga lalu, dunia sudah menganggap Federer sebagai juara. Meski begitu langkah Federer untuk sampai final juga tak mudah karena dia sempat tertinggal dua set untuk kemudian membalikkan keadaan ketika menundukkan Tommy Haas di babak keempat, sementara di semifinal dia selamat dari pertarungan lima set atas Juan Martin del Potro.
Dan seperti saat dikalahkan Nadal di final Australia Terbuka pada awal tahun, FedEx kembali menitikkan air mata setelah diserahi tropi juara oleh Andre Angassi, petenis terakhir yang mampu menjuarai keempat seri Grand Slam.
Tapi tak seperti di Rod Laver Arena, tangis FedEx kali ini jelas merupakan air mata bahagia.
"Tak akan ada lagi yang mengatakan kalau saya tak pernah menang di Roland Garros," lanjut petenis 27 tahun itu.
"Dia (Agassi) yang menyerahkan tropi, itu berlebihan, sangat menyenangkan melihat dia berada di sini tahun ini. Dia bilang pada saya 'sepertinya sudah takdir kamu, kamu layak mendapatkannya'," pungkas dia yang kemudian tak lupa mengucap terimakasih besar buat publik Paris yang sangat mendukungnya. (din/key)











































