"Tadi banyak yang bilang juga ke saya, ini seharusnya jadi partai final. Mungkin lain kali drawing kami seharusnya dipisah," ujar unggulan kelima ini setengah berseloroh. "Tapi itu kan hasil drawing, kita bisa apa?" lanjutnya.
Di lapangan dua Istora senayan, Jakarta, Jumat (19/6/2009), Taufik butuh tiga set untuk bisa menundukkan unggulan dua asal Denmark itu. Pertandingan alot tersebut berlangsung selama 1 jam 12 menit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya selalu bilang, mau kalah mau menang, pertandingan saya dengan dia selalu seru," tukasnya.
"Kalau saya maksain di set kedua dan saya kalah juga, saya bisa habis di set ketiga. Tadi akhirnya saya diskusi dengan pelatih, kalau bisa saya teruskan, kalau nggak saya lepas."
"Kita (dia dan Gade, red) sama-sama takut. Makanya saya banyak error sendiri, buru-buru pengen mematikan tapi saya malah mati sendiri. Tadi banyak error di poin-poin penting. Peter Gade juga begitu."
Di babak semifinal besok, Sabtu (20/6/2009), Taufik akan menghadapi sesama pebulutangkis Indonesia, Sony Dwi Kuncoro. Pria 27 tahun ini mengaku tak tahu menahu mengetahui kekuatan Sony saat ini, meski ia juga optimistis dirinya bisa menang.
"Saya nggak tahu bagaimana dia sekarang, kita sudah enam bulan tidak latihan bareng. Siapapun yang menang nanti, kita bersyukur ada satu tempat (untuk Indonesia) di final."
"Mungkin di luar kita teman, tapi di lapangan kita lawan. Semoga kita sama-sama bisa memberikan yang terbaik. Kita kan sama-sama membawa Indonesia."
Mengenai dukungan para penonton untuknya, Taufik merasa tersanjung. Meski kini dirinya sudah tak bermain dengan bendera pelatnas, ternyata para suporter masih mendukungnya.
"Saya senang main di sini. Keluarga, teman, penonton semua mendukung saya. Ternyata setelah saya keluar dari pelatnas mereka masih antusias."
(roz/din)
