Resesi global telah berakibat banyak dalam dunia olahraga. Selain balapan F1 yang mulai ditinggal sponsor, klub-klub sepakbola juga mulai merasakan efek negatif setelah sponsor mereka terimbas masalah yang sama.Β
Namun hal tersebut sama sekali tidak terlihat pada turnamen Wimbledon tahun ini. Ketika Inggris dan negara Eropa lainnya terjebak dalam krisis ekonomi, minat orang-orang untuk tetap menyaksikan turnamen Grand Slam satu-satunya yang di selenggarakan di permukaan rumput ini tidak surut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total jumlah penoton yang hadir sebanyak 42.181 oranh, naik sebanyak 3500 angka dibanding rekor hari pertama tertinggi sebelumnya yang dicatat pada tahun 2001. Hal ini disinyalir terjadi karena adanya tradisi untuk menghabiskan musim panas dengan menonton turnamen Wimbledon di kalangan orang Britania.
"Pemandangan di sini seperti orang-orang sedang mengatakan 'lupakan resesi, mari kita ke Wimbledon dan bersenang-senang'," ujar jurubicara All England Club, Johny Perkins.
"Orang-orang duduk dan menentukan tentang apa yang akan dijadikan media untuk menghabiskan uang hasil pendapatan mereka. Berita baiknya adalah, Wimbledon pilihannya. Mereka tampaknya membelanjakan uangnya disini. Jika kapasitas di sini 100.000 maka akan terdapat 100.000 orang di sini," sambung Henry O'Grady, juru bicara yang lain.
Bukti lain terkait imunitas Wimbledon terhadap resesi global, pihak All England Club selaku panitia penyelenggara turnamen sukses menjual tiket terusan sebanyak 2.500 di Center Court untuk lima tahun. Setiap tiketnya sendiri berharga 45.600 dollar (sekitar Rp. 471,5 juta).
Dengan pendapatan 9.120 dollar per tahunnya, jumlah tersebut hampir lima kali lipat dibanding jumlah yang diterima klub liga Primer, Chelsea di musim terbaiknya.
Dari pendapatan itulah pihak panitia penyelenggara dapat melakukan penambahan fasilitas. Seperti diketahui telah dibangun atap yang bisa bergeser di atas Center Court.
"Dari situlah kami mendapatkan uang dan dapat membangun fasilitas baru. Kami memiliki kemampuan untuk mengatasi resesi. Mungkin kami lebih baik dengan sejumlah organisasi yang lain yang hanya melihat pada jangka pendek. Even seperti Wimbledon telah menyentuh emosi orang-orang," pungkas Perkin.
(din/din)











































