Satu tiket final digenggam Roddick seusai menundukkan idola tuan rumah, Andy Murray, dengan skor 6-4, 4-6, 7-6 (9-7), 7-6 (7-5), dalam partai semifinal yang digelar Jumat (3/7/2009).
Keberhasilan melangkah hingga final adalah yang pertama bagi Roddick dalam empat tahun. Petenis Amerika itu terakhir melaju ke final Wimbledon pada tahun 2005 setelah setahun sebelumnya juga masuk partai puncak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak memenangi AS Terbuka tahun 2001, Roddick belum pernah menjuarai Grand Slam lagi. Tahun lalu, Roddick tak pernah bisa melewati perempatfinal di Grand Slam manapun dan kemudian menyewa pelatih Larry Stefanki untuk memoles fisiknya.
Di bawah gemblengan Stefanki, Roddick bertambah bugar. Pemuda 26 tahun itu sukses mengurangi berat sampai enam kilogram dan kini sudah berada di depan gerbang titel Grand Slam keduanya.
"Saya benar-benar bekerja keras dan sangat berkomitmen. Saya patuh pada semuanya, dari mulai diet sampai ke jadwal tidur. Saya membuat diri saya berpeluang sukses," tukas Roddick.
Sayangnya, lawan di final adalah Federer; petenis yang menekuknya di final 2004 dan 2005 itu. Federer juga sedang mengejar titel Grand Slam ke-15 yang akan membuatnya melewati rekor Pete Sampras. Wajar bila Roddick jadi underdog.
Namun hal itu tidak membuat Roddick gentar. Bahkan rekor pertemuan yang sangat jomplang, di mana Federer memenangi 18 dari 20 pertemuan mereka, tidak menciutkan nyalinya.
"Saya sangat tak sabar menantikan final yang ini. Saya tak tahu apakah bisa bermain di final Wimbledon lagi. Saya juga ingin menunda (Federer) sampai Grand Slam mendatang," tegas Roddick.
(arp/arp)











































