Prestasi bulutangkis Indonesia kini tengah merosot. Menurut legenda bulutangkis Indonesia, Haryanto Arby, kemunduran itu disebabkan Indonesia hanya bisa melahirkan atlet dan tidak dapat menciptakan.
Di masa silam, Bulutangkis berulangkali mengharumkan Indonesia di kancah internasional. Nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Haryanto Arby dll, merupakan generasi emas dari perbulutangkisan nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan baru-baru ini, 'Merah Putih' harus takluk di negeri sendiri dalam gelaran Indonesia Open Super Series. Saat itu setelah cuma meloloskan Taufik Hidayat ke final, itupun dia gagal jadi juara setelah ditaklukkan petenis asal Malaysia, Lee Chong We.
Menurut Haryanto, Indonesia saat ini berada dalam keadaan di mana tidak ada atlet yang secara alami bagus dan sistem pembinaan yang buruk. Menurut mantan pemain yang terkenal dengan smash 100 watt-nya ini, sejak dahulu Indonesia hanya mengandalkan kemampuan pemain sedangkan dari sisi pembinaannya cukup minim.
"Jika di negara-negara lain atlet itu dapat diciptakan dengan pembinaan, Indonesia hanya melahirkan atlet," terangnya ketika menjadi narasumber dalam seminar Semangat Jawa Tengah Membangun Indonesia', Kamis (30/7/09).
Pendapat Haryanto dibenarkan oleh pelatih Pelatnas, Fung Permadi. Ia mengakui jika pembinaan atlet bulutangkis di Indonesia masih belum optimal terutama di tingkat lokal.
"Standar kelepatihan di tingkat daerah memang masih simpang siur. Di sana belumterdapat ketentuan dan standarisasi yang jelas," tuturnya.
Β
(din/krs)










































