Beratnya Perjuangan Safina

AS Terbuka

Beratnya Perjuangan Safina

- Sport
Jumat, 04 Sep 2009 08:00 WIB
Beratnya Perjuangan Safina
New York - Petenis nomor satu dunia Dinara Safina punya tekanan lain di samping lawan-lawannya di atas lapangan. Fakta bahwa dia belum pernah memenangi grand slam rupanya benar-benar dipermasalahkan.

Bahkan hal itu sudah diangkat sebelum dimulainya turnamen AS Terbuka, yang mana Safina tetap menjadi unggulan pertama "hanya karena" posisinya di daftar peringkat WTA, padahal tak punya rekor istimewa di turnamen tersebut. Dibandingkan dengan petenis nomor dua Serena Williams, misalnya, yang di Flushing Meadows telah tiga kali juara termasuk tahun lalu.

Maka ketika Safina harus bermain tiga set untuk mengalahkan petenis wildcard dari Australia,Β  Olivia Rogowska, di babak pertama, sindiran itu seperti "tepat sasaran". Begitu pula saat ia melakoni pertandingan kedua melawan Kristina Barrois, Kamis (4/9) malam WIB, yang mana ia kembali tidak menang straight set, 6-7 6-2 6-3.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menghadapi pemain tak terkenal berperingkat 67 itu, Safina harus menguras tenaga selama dua jam 13 menit. Ia juga melakukan banyak kesalahan dengan 15 double fault dan 38 unforced error. Tekanan terlihat betul ketika ia kerap memaki dirinya dan sendiri dan memukulkan raket ke lapangan.

"Satu lagi hari berat di kantor," demikian kalimat pertama Safina sambil berseloroh, saat konferensi pers pasca pertandingan melawan Barrois.

Saat disinggung lagi soal kolaborasi peringkat dan titel grand slam, petenis Rusia berusia 23 tahun ini mengatakan, "Tidak seorang pun bisa merebut itu dariku."

"Ada banyak pemain yang memenangi sebuah grand slam, dan di mana mereka sekarang?" tukasnya. "Mereka tidak ada di mana-mana. Beberapa pemain yang bahkan Anda tidak tahu bahwa mereka pernah memenangi sebuah grand slam. Kalian melihat dan berujar seperti, 'Ya ampun, dia pernah juara ya?"

"Tapi nomor satu akan selalu ada di sana. Orang-orang akan mengingat Anda sebab nomor satu, bukan karena memenangi sebuah grand slam," papar adik kandung Maraf Safin ini.

Sepanjang karirnya Safina "baru" mengoleksi 12 titel juara. Prestasi terbaiknya di turnamen grand slam adalah runner up Australia Terbuka (2009) dan Prancis Terbuka (2008, 2009). Adapun di AS Terbuka, capaian terbaiknya baru semifinal, yang ditorehkan di tahun lalu.

Meski disepelekan banyak pihak, tapi Barrois termasuk yang memaklumi siapa Safina. "Pada akhirnya, dia punya banyak tekanan dan melakukan servis dengan bagus. Dia dapat satu atau tiga ace di satu game. Begitulah seorang pemain nomor satu harus bermain."

"Tak gampang buat dia karena semua orang bertanya kapan dia akan memenangi grand slam. Mungkin dia akan melakukannya di sini," ujar petenis Jerman itu, seperti dikutip dari Reuters.

Setelah Barrois, di babak ketiga Safina akan berjumpa petenis asal Republik Ceko, Petra Kvitova. (a2s/nar)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads