Oudin sudah merebut fokus perhatian publik dengan laju mengesankannya di Flushing Meadows kala menyungkurkan sejumlah petenis unggulan dalam mencapai perempatfinal. Gadis AS berusia 17 tahun itu pun digadang bisa mengulang sukses Serena Williams muda saat jadi jawara sedekade lalu.
Lolosnya Oudin ke perempatfinal bikin AS punya dua wakil di babak delapan besar, dengan Serena menjadi yang satunya lagi. Dalam hal jumlah, Belgia juga boleh berbangga diri karena lolosnya Wickmayer dan Kim Clijsters --yang baru kembali bertenis lagi-- membuat mereka dan AS menjadi negara dengan partisipan terbanyak di delapan besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gadis berusia 19 tahun yang kini menghuni rangking 50 dunia --tertinggi di antara petenis putri Belgia lainnya-- tersebut bahkan disanjung sebagai calon pewaris tahta Henin kendati keduanya punya postur dan gaya main berbeda.
Entah apakah prediksi itu akan terwujud atau tidak, tapi yang pasti Wickmayer sudah sukses menjadi satu dari delapan petenis yang masih tersisa di AS Terbuka 2009. Inilah capaian terbaiknya di ajang Grand Slam.
"Berada di perempatfinal sebuah Grand Slam untuk kali pertama benar-benar sebuah momen spesial. Ini luar biasa," ucap Wickmayer berbunga-bunga di Reuters.
Laju Wickmayer yang berpostur 1,82 m/68 kg tersebut tak lepas dari dukungan penonton di Flushing Meadows. Meski lahir di Belgia, kenyataannya dia memang sempat menghabiskan waktu tiga tahun di Florida, AS.
Datangnya Wickmayer ke negeri 'Paman Sam' ini sebenarnya tak lepas dari peristiwa pahit yang dia alami saat kecil. Di usia 9 tahun, Wickmayer kecil ditinggal pergi ibunda tercinta yang meninggal karena kanker.
"Aku suka main tenis. Memang aku baru memainkannya selama setengah tahun, tapi aku sangat menikmatinya dan ingin pergi dari rumah, berada di sekitar orang lain. Itu mengapa kami meninggalkan Belgia," kenang dia.
Kepergian Wickmayer dari kampung halamannya turut disertai oleh sang ayah, Marc, yang harus membuat pengorbanan besar. Demi menemani putrinya memulai awal baru dan menekuni tenis di AS, Marc rela menjual bisnis konstruksinya.
Tindakan Marc diakui Wickmayer bukan semata karena sang ayah ingin putrinya jadi lebih hebat bertenis saja, tapi lebih agar dia bisa melupakan kepedihan usai kehilangan orang terkasih.
"Aku harus mengaguminya karena sudah mengorbankan semua yang dia miliki. Dia mengorbankan pekerjaanya, dia mengorbankan teman-temannya, dia mengorbankan rumah, mobilnya dan kami pergi begitu saja."
"Dia mengorbankan semua hanya untuk bikin putri kecilnya bahagia, bukan untuk menjadikannya jawara tenis. Dia pria luar biasa," papar Wickmayer mengisahkan.
(krs/a2s)











































