Tahun 1999, Marc Wickmayer memutuskan untuk menetap di Amerika dan meninggalkan pekerjaannya di bidang konstruksi. Beberapa waktu sebelumnya, istri Marc meninggal dunia karena kanker.
Sepuluh tahun berlalu, kini Wickmayer sudah kian dekat menggapai mimpinya menjadi petenis papan atas dunia. Keberhasilan lolos ke semifinal AS Terbuka menjadi salah satu buktinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bermain di semifinal Grand Slam adalah sesuatu yang hebat. Ini sangat menakjubkan dan sangat menyenangkan," girang Wickmayer pasca laga kontra Bondarenko seperti dilansir AFP.
Tak ada langkah raksasa dengan menumbangkan pemain unggulan. Kiprah Wickmayer bisa dibilang biasa-biasa saja. Namun konsistensi dan fokus justru bisa ia dapatkan dengan situasi nir sorotan seperti itu.
"Saat Anda berada di babak ketiga atau keempat, Anda mulai terkejut sendiri. Tapi sebenarnya saya cukup tenang karena saya telah bekerja keras untuk ini," cetus Wickmayer lagi.
Wickmayer ke semifinal dengan mengekor jejak seniornya sesama petenis Belgia, Kim Clijsters, yang juga idolanya. Clijsters yang datang dengan wild card bagai inspirasi WIckmayer untuk terus melangkah tanpa takut.
Dalam sejarah AS Terbuka, belum pernah ada dua petenis non unggulan yang sampai ke semifinal, tetapi Wickmayer mewujudkannya dengan bangkit dari konsisi tertinggal 1-4 dan memenangi lima game berikutnya untuk melaju.
"Saya melewatkan beberapa kesempatan. Saya sedikit marah pada diri sendiri, tetapi saya bertahan dan akhirnya saya bisa membalikan keadaan," pungkas WIckmayer gembira.
(arp/nar)










































