Safin menandai partai terakhirnya selama berkarir di dunia tenis dengan kekalahan 4-6 7-5 4-6 dari Juan Martin del Potro, Rabu (11/11/2009) waktu setempat. Safin di babak sebelumnya juga sudah bersusah payah lolos ke babak ini.
"Aku tahu tak punya banyak peluang untuk mengalahkannya tapi aku bermain cukup bagus, banyak yang nyaris-nyaris," ucapnya di Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah terus berjuang mengais angka, pria Rusia yang pernah tiga kali jadi juara Paris Masters akhirnya harus menyerah usai Del Potro menyarangkan pukulan ace.
"Di sini semua bermula dan di sini akhirnya harus tuntas. Tak ada tempat lebih baik dibandingkan (mengakhirinya) di sini," lugas Safin.
Usai tak lagi bermain, Safin yang belum pernah menggondol titel juara lagi semenjak Australia Terbuka 2005 itu mengaku belum tahu akan melakukan apa. Yang pasti dia cukup lega akhirnya bisa lepas dari rutinitas ketat tenis kompetitif.
"Sekarang aku tak lagi punya jadwal, tak ada latihan. Aku jadi milikku sendiri. Besok aku akan bangun dan melihat apa yang bisa aku lakukan," ceplos pemain yang dikenal temperamental tersebut.
"Aku pemain yang cukup baik. Secara umum aku baik kepada semua orang kendati aku sempat terlibat pertengkaran dengan umpire," lanjut dia mengenang.
Sebagai penghormatan, pihak penyelenggara turnamen juga memberinya seremoni khusus usai pertandingan sebagai salam perpisahan. Safin juga mendapat trofi spesial berupa simbol kunci kota Bercy tempat turnamen ini dihelat. (krs/krs)











































