Piala Dunia Tenis, Mungkinkah?

Piala Dunia Tenis, Mungkinkah?

- Sport
Kamis, 14 Jan 2010 17:42 WIB
Piala Dunia Tenis, Mungkinkah?
Jakarta - Ide tentang piala dunia tenis mendapat dukungan dari sejumlah pemain. Bila terealisasi, ada kemungkinan Piala Davis tersingkir. Federasi tenis internasional ITF menginginkan Piala Davis dipertahankan.

Ide piala dunia tenis sudah dikemas oleh gemba, lembaga sport dan marketing yang berbasis di Melborune, Australia. Ide ini telah dibahas dan dikembangkan selama 14 bulan terakhir.

Konsep piala dunia tenis seperti piala dunia sepakbola. Ada 32 negara yang bermain selama 10 hari di satu negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Peserta dibagi dalam delapan grup, di mana juara dan runner-up melaju ke babak gugur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu negara diperkuat minimal dua pemain dan setiap pertandingan bakal berlangsung lima set. Pemain diberi waktu jeda selama 25 detik untuk setiap poin.

gemba mengatakan bahwa rencana ini tidak akan mengganggu keberadaan Piala Davis. "Tentu saja kami tidak berniat menggantikan Piala Davis. Itu bukan tujuan kami."

"Namun ada sebagian konsumen (penonton) tenis meminta turnamen yang lebih menarik lagi. Tujuan kami adalahΒ  bisa menghadirkan kejuaraan sesuai dengan yang diminta konsumen, tukas direktur gemba James Hird, seperti dilansir dari Associated Press.

Sementara ITF berniat untuk tetap mempertahankan Piala Davis. "Meski Piala Davis telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, namun turnamen ini tidak kehilangan nilai-nilai-nya. Dengan format home and away, turnamen ini mendapat dukungan besar dari fans, sponsor, televisi, dan pemain yang menikmati bermain di depan publik sendiri," demikian ITF.

Bagaimana tanggapan para pemain? "Saya merupakan penggemar berat Piala Davis. Namun bila ada keputusan baru yang memaksa Davis tidak dilangsungkan, atau ada penyesuaian terhadap kalender turnamen, maka Piala Dunia merupakan ide bagus," kata petenis Inggris Andy Murray dilansir dari The Times.

"Olahraga ini mengalami perkembangan. Jadi kita harus melakukan beberapa perubahan. Mungkin Piala Davis sempurna untuk 20-30 tahun lalu. Namun kini kejuaraan itu memberatkan. Bermain dalam sistem best in five sets selaam tiga hari berturut-turut, dan pastinya selama seminggu sebelum dan seminggu sesudah kejuaraan kami tak bisa bermain. Jadi Piala Davis menghabiskan waktu," tandas petenis Kroasia Ivan Ljubijic.

Para pemain yang tergabung di dewan pemain ATP bersiap membicarakan masalah ini. "Kami akan melakukan pembicaraan di Australia tentang sesuatu yang krusial untuk beberapa tahun ke depan. Satu hal yang bisa saya katakan adalah saya gembira bahwa semua pemain papan atas bersedia terlibat dalam pembicaraan ini," ujar Novak Djokovic.

"Kami tidak tahu bagaimana ide ini nantinya, sebab ada banyak konsekuensi. Mempertimbangkan jadwal turnamen yang sangat padat, harus ada yang dikorbankan," tuntas petenis berjuluk The Joker itu.


Foto: Spanyol ketika menjuarai Piala Davis 2009 (Reuters)

(nar/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads