"Kita ingin menjadi yang terbaik di bulutangkis seperti di masa-masa emas dulu. Di bidang lain masuk 10 besar atau 20 besar sudah cukup, tapi di bulutangkis kita harus jadi yang terbaik," ungkap Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng.
Andi mengungkapkan hal tersebut di sela-sela pelepasan skuad bulutangkis Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, di lantai 10 gedung Menteri Pemuda dan Olahraga, Senayan, Jakarta, Rabu (5/5/2010) siang WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia harus menengok jauh ke belakang untuk mengingat kembali kejayaan bulutangkisnya di kancah internasional. Untuk Piala Thomas misalnya, kali terakhir Pasukan Merah Putih jadi kampiun adalah tahun 2002 lalu. Sementara Piala Uber lebih lama lagi, yakni di tahun 1996.
Kondisi serupa terjadi di beberapa event papan atas lainnya seperti Piala Sudirman dan All England. Di Piala Sudirman Indonesia baru sekali jadi juara di edisi pertama event tersebut tahun 1989 silam.
Sementara untuk All England, Sigit Budiarto/Candra menjadi wakil Indonesia terakhir yang bisa jadi kampiun. Tapi itu terjadi di penyelenggaraan tahun 2003.
"Setelah Piala Thomas dan Uber, harusnya bisa juara All England, Sudirman dan yang lain," lanjut Andi.
Terkait skuad Piala Thomas dan Uber Indonesia, Andi mengaku gembira karena munculnya beberapa wajh baru. Hal itu disebutnya sebagai bukti kalau proses regenerasi berjalan cukup baik di PBSI.
"Saya senang melihat kedatanagan tim Thomas dan Uber, saya lihat wajah-wajah optimistis. Mudah-mudahan bisa mempersembahkan Piala Thomas dan Uber. Banyak diisi pemain baru. Saya salut dengan PBSI, dengan adanya pemain muda yang muncul di tim Thomas dan Uber, pembinaan pemain muda berarti berjalan," pungkas politisi Partai Demokrat itu.
(din/a2s)











































