Berharap Ulangan Sejarah 10 Tahun Lalu

Piala Thomas

Berharap Ulangan Sejarah 10 Tahun Lalu

- Sport
Minggu, 09 Mei 2010 07:35 WIB
Berharap Ulangan Sejarah 10 Tahun Lalu
Jakarta - Dua tahun lalu Indonesia memiliki peluang besar untuk memenangi Piala Thomas ketika dihelat di Jakarta -- namun gagal. Tahun ini harapan dicuatkan lagi, seperti sejarah satu dekade silam.

Di Piala Thomas 2008, dengan dukungan suporter yang dikenal paling atraktif sedunia, Indonesia terhenti di babak semifinal. Menghadapi Korea Selatan, Taufik Hidayat dkk menyerah 0-3. bahkan dalam perebutan tempat ketiga pun mereka kalah dari Malaysia.

Kegagalan itu seiring sejalan dengan terus menurunnya prestasi pemain-pemain "Merah Putih" di level internasional. Dari berbagai turnamen terutama yang bertitel Super Series, begitu sulit atlet-atlet Indonesia mendobrak dominasi China untuk mengumpulkan gelar -- sampai kini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Regenerasi pemain tidak berjalan. Demikian penilaian hampir semua kalangan pecinta dan pemerhati bulutangkis di tanah air. Taufik masih belum tergantikan kendati mulai tahun lalu tak lagi tercatat sebagai pemain pelatnas. Sony Dwi Kuncoro seperti berjalan di tempat, Simon Santoso pun sulit merangkak ke level yang lebih tinggi.

Tiga pemain tunggal itu masih menjadi pilar Indonesia di turnamen Piala Thomas tahun ini, di-back up oleh pemain mudaΒ  Dyonisius Hayom Rumbaka. Mereka akan bahu-membahu dengan dua ganda yang relatif masih kuat: Markis Kido/Hendra Setiawan dan Alven Yulianto/Hendra Gunawan. Pemain senior Nova Widianto, yang spesialis ganda campuran bersama Lilyana Natsir, disiapkan berduet dengan Mohammad Ahsan.

Dengan belum membaiknya prestasi di kancah internasional, dan terutama melawan dominasi China, sepertinya ekspektasi Indonesia menjadi juara tidaklah besar. Namun, kecintaan masyarakat Indonesia pada bulutangkis senantiasa membuat harapan seperti tak pernah mati.

Jika berharap pada hal non-teknis, 10 tahun lalu Indonesia pernah berjaya. Kali terakhir event ini digelar di Malaysia, Indonesia adalah juaranya. Kala itu Hendrawan cs sukses menaklukkan China dengan skor 3-0.

"Indonesia saat ini dalam kekuatan yang berimbang. Kami berharap bisa menjadi juara," demikian ujar manajer tim Yacob Rusdianto saat timnya melakukan latihan resmi di Putra Stadium, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, hari Sabtu (8/5) kemarin.

Indonesia masih tercatat sebagai juara paling sering di turnamen ini, sebanyak 13 kali. Namun, sejak menang di Malaysia dan dilanjutkan dua tahun kemudian di Guangzou, mereka tak pernah lagi melakukannya, bahkan untuk masuk final sekalipun. Di tiga edisi terakhir mereka selalu kandas di semifinal, termasuk dua tahun lalu di kandang sendiri.

Indonesia akan memulai perjuangannya siang ini, Minggu (9/5), melawan Australia. Di atas kertas, tidak ada rumusnya Indonesia akan kalah dari dua rivalnya di Grup D -- tim lain adalah India. Tantangan terbesarnya adalah siapa yang kelak menjadi lawan mereka di babak perempatfinal, ketika mereka bisa bertemu siapapun karena akan dilakukan undian lagi secara acak. Artinya, kemungkinan bertarung dengan tim-tim favorit lain termasuk China, bisa saja terjadi.

Tapi atas nama harapan, tidak ada yang tidak mungkin. Selamat berjuang.


Beri dukungan Anda untuk tim Indonesia di sini.
(a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads