"Kalau jarang ikut kejuaraan, ya mentalnya pasti gampang drop," kata Johanes Bares asal Medan kepada detikSport di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (3/7/2010).
Johanes mencontohkan, anaknya, Alpen Makro Bares yang agak kedodoran saat bermain. Mental dan daya adaptasi terhadap lapangan, kurang. Padahal secara teknik, Alpen tak kalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guru sekaligus petani sawit ini menjelaskan, di daerahnya, kejuaraan digelar maksimal 2 kali dalam setahun. Beda dengan di Jawa yang bisa berkali-kali. Kalau di daerah satu sepi, daerah lain ada kejuaraan.
Johanes menambahkan, temannya asal Papua kabarnya juga kedodoran saat ikut audisi. "Padahal dia juara di sana (Papua). Mental dan kualitasnya, ternyata jauh dibanding anak sini," ungkapnya.
Ayah lima anak ini berharap PB Djarum memfasilitasi kesenjangan itu. Dengan demikian, potensi peserta dari luar Jawa juga tergali.
Sejauh ini, Alpen pernah mendapat penghargaan dalam kejuaraan bulutangkis se-Sumut. Siswa kelas I SMP Metodis Tanjung Morawa, Deli Serdang dan tergabung dalam Klub Angsapura ini juga pernah ikut kejuaraan di Pekanbaru, Riau. Dia nekat ikut audisi karena cinta dunia bulutangkis sejak kecil.
(try/krs)











































