Clijsters adalah seorang warga Belgia yang sehari-hari tinggal di kota Bree. Namun karena suaminya, Bryan Lynch adalah pebasket berkebangsaan Amerika, maka ia juga punya rumah di New Jersey.
Tapi rumah yang dirasakan oleh Clijsters bila bertanding di AS Terbuka bukanlah rumah dalam arti fisik. Di Flushing Meadows, Clijsters merasa seperti di rumah karena atmosfernya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Flushing Meadows bagai rumah buat Clijsters karena para penonton di sana sangat menyukainya. Di setiap pertandingannya, para penonton selalu memberi sambutan meriah buat petenis 27 tahun itu.
Tak terkecuali saat Clijsters melakoni partai babak kedua menghadapi Petra Kvitova. Sempat memulai dengan tidak meyakinkan, Clijsters menundukkan Kvitova 6-3 6-0.
Sambutan meriah yang didapat Clijsters dari publik tenis Amerika adalah berkat keberhasilannya jadi juara di sana tahun lalu walau ia baru mengikuti tiga turnamen usai comeback ke dunia tenis.
Perjuangan Clijsters yang luar biasa, ditambah sikapnya yang rendah hati, telah menumbuhkan simpati bagi publik Flushing Meadows.
Apalagi, Clijsters juga seorang atlet terkenal yang sangat cinta pada keluarga. Perkawinannya dengan Lynch telah berusia tiga tahun dan selama ini jauh dari gosip miring.
"Saya punya banyak teman yang kehidupannya membaik (setelah menikah), tapi saya juga punya teman yang bercerai tak lama setelah menikah," ungkap Clijsters.
"Saya bukanlah penasihat perkawinan, tapi buat saya perkawinan memberi efek bagus, jadi saya tentu saja akan menyarankan perkawinan," tuntas ibu dari Jada Ellie (2,5 tahun) itu.
(arp/nar)











































